Top Ad 728x90

Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Juli 13, 2018

Touring Berkendara Roda Dua Anggota Persit KCK Kelilingi Kudus

by
Jurnalpantura.Com, Kudus - Dalam rangka HUT Persit Ke-72 Tahun 2018, Persit Kartika Chandra Kirana Ranting XLIII Kodim 0722/Kudus melakukan teringat.

Kegiatan touring untuk pertama kalinya di laksanakan di wilayah Kabupaten Kudus, Kamis 12/07/2018 dengan diikuti seluruh anggota Persit KCK Kodim Kudus.

Menurut ketua KCK Papiyanti Sentot Dwi Purnomo  Kegiatan touring bertujuan selain mempererat silaturahmi antar anggota, juga memberikan kesempatan kepada para pengurus Persit untuk menikmati kebersamaan sesama anggota Persit.

"Touring anggota KCK ini beda, karena selama touring anggota berkendaraan roda dua bersama Keluarga Besar Persit menuju tempat wisata diwilayah Kabupaten Kudus."Jelasnya.

Sebelum memulai perjalanan, Ketua Persit KCK Cabang XLIII Ny.Sentot Dwi Purnomo didampingi Ny.Endah Sukaryono yang juga merupakan seorang anggota Polisi Wanita Polres Kudus memberikan pengarahan mengenai tata cara melakukan touring yang benar dan tidak mengganggu apalagi membahayakan pengguna jalan yang lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan do’a bersama.

Touring kali ini memiliki destinasi kota Kudus dengan melewati tempat-tempat yang eksotis sebagai tujuan wisata keluarga, mulai dari Waduk Wilalung Desa Kalirejo Kecamatan Undaan hingga ke Oasis Djarum di wilayah Kecamatan Bae.

Sampai di Oasis, selain menikmati suasana sejuk di Djarum Oasis para rombongan juga menikmati kenyamanan dalam dan keindahan di Oasis Djarum Kudus. (J10/A02)

Juli 09, 2018

Warganet Anggap Pengecetan Batu Sungai Rahtawu Sebagai Vandalisme

by
Jurnalpantura.Com, Kudus - Kontroversi dicatnya batu-batu besar di Sungai daerah Malang beberapa waktu lalu, kini terjadi di Kabupaten Kudus.

Sejumlah batu besar dikawasan Sungai Rahtawu, Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus juga di cat dengan warna warna.

Banyak warganet yang menghujat pengecetan batu-batu besar di Sungai Rahtawu, bahkan ada sebagian warganet menganggap pewarnaan batu tersebut dianggap sebagai Vandalisme.

Vandalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah "perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya)" atau "perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas".

Jika di Malang tujuan dicatnya batu-batu besar oleh pemerintah setempat dengan tujuan untuk menekan aksi penambangan liar, belum diketahui jelas motif batu-batu besar di kawasan sungai Rahtawu juga dicat dengan warna-warni.

Kemungkinan besar hanya sebagai daya tarik untuk mendatangkan wisatawan.

Foto batu bercat warna-warni itu sudah tersebar luar di media sosial. Foto ini dijumpai diposting di Instagram oleh akun @Sekitar Kudus. Di dalam foto terlihat pengunujung yang sedang duduk berpose di batu-batu bercat warna warni.

“Bisa bantu mengingatkan pengelola tentang kerusakan lingkungan,  ini sangat sungguh kebablasan atau sekalian lapor ke dinas pariwisata,” tulis akun Navies16.

Senada juga ditulis akun @Rose shot. Akun tersebut dalam cuitannya menilai pengeceatan batu-batu itu berlebihan.  Ia juga menuding aksi pengeceatan batu-batu alam itu sebagai bentuk vandalisme.

” Terlalu memaksakan massive,  vandalisme,  yen dicoret-coret ora oleh,  yen diwarnai oleh?? Ibarat wong wedok awak e ora ireng,  ora puteh,  nanging wedakan diwedaki kandel. Sedeh ngrasakke,” tulisnya.

Foto dengan latarbelakang yang sama juga diposting akun instagram Visitrahtwu. Di dalam akun itu terlihat seorang wanita yang tengah berpose di atas batu bercat warna-warni.

Hingga Senin 09/07/2018 siang, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kudus Yuli Kasiyanto belum memberikan keterangannya terkait pewarnaan batu-batu besar di Sungai Rahtawu.

Juli 03, 2018

Anjangsana Anggota DEWIKU Ke Desa Wisata Curug Sewu

by
Jurnalpantura.Com Jurnalpantura.Com, kendal - Gelaran tahunan Forum Komonikasi Desa Wisata, sekaligus Halal Bi Halal untuk tahun 2018, giliran Kabupaten Kendal menjadi tuan rumah. Kabupaten Kendal Kabupaten kendal menjadi tuan Rumah pertemuan rutin Forkom dan halal bi halal pengelola desa wisata se-Jawa Tengah, kata Tatang Sariawan ketua  Forum komunikasi desa wisata Jawa tengah.

Ketua Forum Komonikasi Desa Wisata Jawa Tengah, mengatakan, "Kegiatan yang diselenggarakan FK Deswita (Forum Komunikasi Desa Wisata) Jateng 29-30 Juni 2018 itu  dipusatkan di Desa Wisata Curuq Sewu, Kecamatan patean, Kabupaten Kendal."

Menurut dia, Curuq sewu dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki keindahan alam yg khas dan juga kemajuan yang pesat dalam pengembangan desa wisata di Jateng, Jumat 29/06/2018.

Desa Curuq sewu merupakan desa yang berada di pegunungan prahu dengam panorama yang indah dan memiliki air terjun yang unik dan tidak pernah surut airnya walaupun musim kemarau.

Sementara dalam hal kelembagaan pengelolaan desa wisata, lanjut dia, Curuq Sewu dinilai sebagai desa wisata yang berkembang dan meiliki kemajuan pesat.

Lebih lanjut, Tatang mengatakan pertemuan FK Deswita merupakan ajang tukar pengalaman dan informasi dalam pengembangan desa wisata se-Jateng yang digelar setiap tiga bulan sekali.

"Berbagai hal dibahas agar pengembangan desa wisata terus meningkat dan mampu menggerakkan perekonomian warga di desa," katanya.

Selain dipercaya sebagai tuan rumah pertemuan FK Deswita, Desa wisata Curuq sewu dalam waktu dekat juga akan diikutsertakan dalam lomba pengelolaan desa wisata tingkat jawa tengah yang diselenggarakan oleh dinas pariwisata provinsi Jateng di Ungaran pada bulan Sepetember yang akan datang, ungkapnya.

Sementara itu, perwakilan Desa Wisata Kudus (Dewiku) yang dipimpin Anis, menyampaikan bahwa rombongan anggota Dewiku yang ikut hadir dalam pertemuan ini berjumlah enam belas anggota tersebar dari beberapa Desa Wisata di Kabupaten Kudus.

"Desa Wisata Loram  Kulon, Hadipolo, Margorejo ,Jepang, Dukuh Waringin dan Desa Wonosoco  serta dua pendamping dari Dinas Pariwisata."Jelas Anis. 

Rombongan tersebut bersama-sama ketua Giptta dan Crew JBO Manajemen mengikuti rangakaian acara yang dilaksanakan selama dua hari. (MD/A02)

Juni 22, 2018

Warga Dukuh Karang Pojok Harapkan Berkah Dari Makan Ketupat Bersama

by
Jurnalpantura.Com, Kudus - Sejak pagi bahkan ada yang setelah melaksanakan Sholat Subuh, ribuan warga Dukuh Karang Pojok, Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, berbondong-bondong ke musala Miftahul Huda untuk memperingati lebaran ketupat atau Bodo Kupat.

Tradisi Bodo Kupat hanya ada di sepanjang Pantai Utara Jawa. Pelaksanaan Bodo Kupat bagi masyarakat di laksanakan 7 hari setelah Idul Fitri.

Tidak hanya kaum Dewasa tapi juga anak-anak kecil pun antusias duduk bersila di serambi musala bahkan meluber hingga halaman depan Mushola, Jum'at 22/06/2018.

Sambil menikmati shalawat juga alunan terbang papat/terbang jawian yang merupakan kesenian asli kebudayaan Kabupaten Kudus.

Ketukan dung-tek, alunan suara terbang papat yang begitu khas, dari remaja musala memberikan nuansa yang berbeda. Alhasil, mereka nampak begitu sumringah, saling sapa-menyapa, seguyub-rukun memperingati kenduri ketupat.

Acara yang dipimpin oleh Kiai Chumaidi dan dipungkasi dengan do'a oleh Kiai Muhtar menambah khusyu'nya ritme masyarakat dalam meng-amini lantunan do'a yang dicurahkan.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan makan ketupat secara bersama-sama dengan berharap keberkahan dari Allah SWT.

Fatkhan Salah seorang pengurus Musala menyampaikan harapan, agar tradisi seperti ini akan selalu dinamis dan selalu diuri-uri masyarakat.

"Bukan hanya sebuah tradisi saja, tapi juga perwujudan rasa syukur terhadap Allah SWT." Jelasnya. (J02 /A01)

Ribuan Warga Rela Antri Dan Berebut Berkah Seribu Kupat

by
Jurnalpantura.Com, Kudus - Parade "Sewu Kupat" (seribu ketupat), merupakan perayaan untuk menghormati Sunan Muria pada 7 hari usai Idul Fitri atau 8 Syawal atau lebih dikenal di kalangan masyarakat Kudus sebagai bodo kupat.

Salah satunya yaitu Parade Sewu Kupat yang tiap tahunnya diadakan di Taman Ria Colo di Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Belasan gunungan berisikan ketupat dan makanan khas dijajaran rapi di halaman untuk kemudian di beri doa.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Yuli Kasiyanto mengatakan, prosesi parade Sewu Kupat diawali manaqib sore kemarin, kemudian pagi tadi dilanjut ziarah ke makam Sunan Muria.

"Tadi perjalanan kirab Kanjeng Sunan Muria dengan mengarak belasan gunungan yang terbuat dari ketupat dan hasil panen desa di Kecamatan Dawe dari makam Sunan Muria menuju Taman Ria Colo. Dibawa ke Makam Sunan Muria untuk dimintakan berkahnya," kata Yuli pada sambutannya.

Prosesi semakin meriah dengan pemotongan ketupat secara simbolik oleh Bupati Kudus Musthofa, dilanjut dengan drama tari kolosal. Kemudian puncaknya adalah saat ribuan warga berebut ketupat dan hasil bumi dari belasan gunungan yang diarak tadi. Jum'at, 22/06/2018.

"Seluruh desa ikut parade sewu kupat. Panitia berterima kasih. Semoga tahun depan bisa terus dilakukan acara ini," ucapnya mewakili panitia Parade Sewu Kupat.

"Saya meyakini betul warga Kudus hormat kepada Sunan Muria. Kita ngalap berkah dari Kangjeng Sunan Muria," kata Musthofa.
Bahkan menurut Bupati Kudus, Parade Sewu Kupat merupakan bentuk penghormatan kepada Kanjeng Sunan Muria. Musthofa berharap tradisi tahunan ini jangan sampai berhenti, siapapun Bupati nantinya harus bisa melanjutkan tradisi sewu kupat.

Pelaksanaan tahun ini  merupakan kegiatan yang masuk tahun ke-11.
"karena tradisi ini bukan sekadar objek wisata tapi juga mencari berkah," ucapnya lebih lanjut. (J02 /A01)

Prosesi Larungan Kepala Kerbau Sebagai Rasa Syukur Masyarakat Jepara

by
Jurnalpantura.Com, Jepara - Arak-Arakan Prosesi Larungan Kepala Kerbau Lomban Tahun 2018 yang di laksanakan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) kelurahan Ujungbatu menuju Rumah Pemotongan Hewan kelurahan Jobokuto di ikuti oleh sekitar 2.000 warga Kabupaten Jepara.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Jepara KH. Ahmad Marzuki SE, Dandim Jepara Letkol Czi Fachrudi Hidayat ST, Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho S I K, Ketua Pengadilan Agama Drs H Imam safii SH MH, Wakil bupati Jepara H Dian Kristiandi S Sos, Sekda Jepara Ir. Sholih. MM, OPD Jepara, Muspika kota Jepara, Kadin Pariwisata serta Lurah Petinggi sekecamatan Jepara kota.

Pertunjukan  Seni tari Warak Dungdeng dari saka pariwisata Jepara menjadi pembuka rangkaian acara yang  di lanjutkan dengan Pemberangkatan arak-arakan ke RPH (Rumah Pemotongan Hewan) desa Jobokuto yang berjarak sekitar 1km dari TPI desa Ujung batu, yang di lanjutkan dengan Prosesi pemotongan Kerbau.

Dalam sambutannya ketua panitia menyampaikan, "Puji syukur kita bisa berkumpul dan melaksanakan kegiatan Arak-Arakan Kerbau, Prosesi Larungan Kepala Kerbau Lomban Tahun 2018 di TPI Ujungbatu menuju Rumah Pemotongan Hewan Joyokusumo."

Kegiatan ini sudah yang ke-3 kalinya kita melaksanakan, semoga kegiatan ini bisa menjadikan daya tarik bagi wisata lokal maupun internasional, Setelah kegiatan arak arakan hari ini di lanjutkan lagi kegiatan malamnya nonton wayang semalam suntuk dan dilanjukan pada pagi harinya melaksanakan larungan kepala kerbau di tengah laut Jepara, Semoga kegiatan ini mendapat berkah dari Allah SWT dan di jauhkan marabahaya, sehingga acara ini menjadi sukses, acara ini dilakukan untuk memberikan varian destinasi wisata di kabupaten Jepara, bahwa kegiatan setelah arak2 kerbau ini nanti sore diadakan ziarah ke makam Cik Lanang dan makam Mbah Ronggo, dan selanjutnya nanti malam acara pagelaran wayang kulit, tambahnya.

Sementara itu Bupati Jepara menyampaikan, " kami dari Forkopimda mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1439 H mohon maaf lahir batin kepada masyarakat yang mengikuti kegiatan ini dan khususnya masyarakat Jepara, Pada prosesi kegiatan Arak-Arakan Kerbau, Prosesi Larungan Kepala Kerbau Lomban Tahun 2018 di TPI Ujungbatu,merupakan rasa syukur kita kepada Allah SWT, Kami berharap kegiatan ini bisa menjadikan daya tarik tersendiri untuk bisa menarik wisata lokal maupun mancanegara."

Semoga selama kegiatan pada hari ini sampai besok diberikan kelancaran oleh Allah SWT sehingga dijauhkan bala dan bencana bagi kita semua, tutupnya. (J02/A01)

Mei 17, 2018

Visualisasi Dandangan Ceritakan Sejarah Kabupaten Kudus Dari Zaman Ja'far Shodig

by
Jurnalpantura.Com, Kudus - Ribuan warga Kudus, Jawa Tengah menyaksikan visualisasi tradisi "dandangan" dalam menyambut datangnya bulan Ramadan yang diwariskan oleh Sunan Kudus.

Visualisasi tradisi dandangan kali ini, menampilkan tari kolosal. Tari yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat Kudus mengambarkan sejarah perjalanan kabupaten Kudus sejak zaman sunan Kudus.

Para pedagang dari berbagai daerah sejak tanggal 06/05/2018, sudah memanfaatkan momen tradisi tersebut dengan menggelar lapaknya untuk berjualan. Ada lebih dari 300 pedagang, mulai dari Jl Pemuda, Jl Ramelan hingga Jl Sunan kudus.

Sejak siang, masyarakat Kudus memenuhi kawasan Simpang Tujuh Kudus untuk menyaksikan secara langsung Visualisasi Dandangan. Visualisasi pentas kolosal Dandangan mengejawantahkan pesan toleransi antar umat beragama, seperti yang sudah di ajarkan Sunan Kudus.

Melalui sendra tari dan teater yang menceritakan sejarah perjalanan Kabupaten Kudus sejak zaman Sunan Kudus, dengan melibatkan peserta berbagai macam etnis dan agama. Diawali dengan penabuhan bedug oleh Bupati Kudus yang didampingi  oleh tokoh agama, tokoh masyarakat serta Kapolres Kudus, perwakilan Dandim Kudus, Ketua Pengadilan Negeri serta Kepala Kejaksaan Negeri Kudus, di Simpangtujuh Kudus, Rabu, 16/05/2018.

Bupati Kudus Musthofa menyatakan tradisi Dandangan telah mengakar kuat ratusan tahun lalu. Tradisi warisan Syeh Ja'far Shodig untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Musthofa mengajak semua masyarakat Kudus untuk terus membangun Kudus, menjunjung tinggi toleransi, karena tanpa itu semua pembangunan Kudus tidak akan bisa seperti ini, ungkapnya.

"Toleransi antar umat beragama terlihat jelas dikudus. Semua berkumpul jadi satu disini, menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita," kata Musthofa SE.MM, Bupati Kudus dua periode ini. (J02 /A01)

Mei 06, 2018

Dilengkapi Spot Eduwisata Kelinci, Pasar Tiban Duit Batok Semakin Semarak

by
Jurnalpantura.Com, Kudus - Pasar Tiban Duit Bathok di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus sudah ada sejak 4 bulan lalu, yakni mulai beraktivitas bulan Januari 2018 hingga sekarang, guna melengkapi sarana eduwisata maka sejak bulan Maret   lalu di lengkapi dengan taman eduwisata kelinci. Setidaknya ada sekitar lebih dari 30ekor kelinci hias di tempat wisata ini.

Suasana di Pasar Tiban dengan duit bathok ini selain ada Taman Kelinci  juga dilengkapi dengan arena bermain , dan arena belajar, sehingga wisatawan bisa mengajak anak-anak untuk belajar. Area Pasar tiban taman Kelinci ini luasnya sekitar 3000 hingga 4000 meter persegi. Ada fasilitas spot foto, ada fasilitas pendopo arena bermain, ada area taman kebun pisang, kebun mangga, dan sedang di bangun kolam lele, gurami, nila untuk pemancingan, selain itu juga ada kebun lavender tanaman pengusir nyamuk dan sedang di tanami  tanaman bunga mstahari.

Wisatawan juga bisa berfoto dengan kelinci. Tetapi saat siang hari, kelinci ini lebih banyak bersembunyi di kandang. Tidak perlu khawatir, ada penjaga kelinci yang bisa membantu pengunjung untuk mendekatkn ke  kelinci. Tak hanya itu, kelinci di sini sudah diberi vaksin. Jika ada kelinci yang sakit, maka segera disendirikan di tempat karantina.

Tak hanya spot selfie di kandang kelinci ini, tempat ini juga sedang di rancang untuk menyajikan beberapa lokasi yang sangat indah dan keren. Misalnya, taman kebun surga dengan aneka tanaman buah surga seperti tanamn buah tin, kurma, buah zaytun, delima, snggur dan pisang, wisata Edukasi pasar tiban dengan nuansa Rabbit Field ini juga kedepan akn menyajikan rerumputan dan berbagai macam bunga yang warna-warni, serta beberapa penataan lainnya hingga berhasil menarik para wisatawan.


Rute untuk bisa menuju kesana pun sangat mudah sekali untuk diakses. Wisatawan hanya tinggal mengikuti jalur menuju Wisata Ke Colo Gunung Muria, dan dekat akses jalan Raya hanya 20 meter dari jalan raya Kudus - Colo Muria.

Saat ini area wisata tersebut masih dalam tahap promosi jadi tiket masuk untuk anak-anak usia 1 tahun hingga 4 tidak dipungut biaya alias gratis,  sedangkan untuk dewasa tiket masuk Rp 10.000 dan diganti dengan 2 koin bathok seharga Rp 5000 per koin, itupun di lokasi pasar tiban bisa dibuat belanja sepuasnya.  Jam buka Pasar Tiban duit bathok untuk saat ini  muali pukul 07.00 hingga pukul 12.00 WIB. Dan di buka sementara hanya untuk hari Ahad, jumlah wisatawan yang berkunjung di pasar tiban dengan eduwisata taman Kelinci bisa mencapai 300 orang.

 Seperti hari Ahad ini, 06/05/2018 , puluhan rombongan siswa siswi TK Insan Cendikia dari Tahunan Jepara, melaksanakan kegiatan eduwisata di pasar tiban duit bathok tersebut, mereka cukup senang karena ada kegiatan edukasi dan ada kegiatan wisata selfi di taman kelinci.

Edukasi yg di berikan oleh pengurus pasar tiban selain praktek cara membatik juga anak anak dikenalkan dan diterangakan tentang cara memelihara  kelinci yang baik dan benar, anak anak sangat antusias karena mereka penasaran "bu kelinci yang besar sebesar manusia yang mana" ungkap Dafa salah satu siswa dengan nada penasaran.

Lalu pemandu menjelaskan " kelinci yang besar sebesar manusia itu lo dik yg di gambar" ungkap Bambang pamandu wisata kelinci.

Akhirnya anak anak paham dan  semangat serta langsung selfie ria dengan kelinci yang gede tersebut. (J02 /A01)

Februari 17, 2018

Meriahkan Peringatan Imlek, Pengurus Klenteng Dan Gusdurian Pati Gelar Kirab Budaya

by
Jurnalpantura.Com, Pati - Dalam rangka peringatan pergantian tahun cina 2569, atau biasa disebut perayaan Imlek. Pengurus klenteng Hok Tik Bio bersama komunitas Gusdurian Pati, mengadakan kirab Budaya. 
Kirab Budaya dilaksanakan Jumat, 16/02 /2018 dimulai pukul 13.15 WIB, dengan rute awal di jembatan Kalidoro menuju Alun- Alun Simpang Lima Pati, lalu jalan Panglima Sudirman sampai dengan perempatan CPM, belok kiri menuju jalan Supriyadi berlanjut ke jalan Wahid Hasyim serta jalan Rogowongso hingga jalan MH Thamrin dan finish di Kelenteng Hok Tik Bio.
Dalam kirab budaya ini dihadiri juga peserta kirab dari luar daerah Kabupaten Pati seperti Tegal, Semarang, Kudus bahkan ada peserta kirab dari salah satu kota di Jawa Timur.
Kirab budaya dalam rangka memperingati hari tahun baru cina 2569 ini, menurut Pengurus Kelenteng Edy Siswanto, dimeriahkan oleh 5 grup barongsai dari Pati, Semarang, Kudus, Slawi dan Jatim. "Ada 3 grup reog, 1 grup barongan, 8 grup marching band Pati, pasukan merah putih dari SMK Jateng Pati, dewa dewi Semarang, punakawan gereja Santo Yusuf Pati, pesilat PSHT Pati, dan didukung oleh komunitas American jeep Pati," terang Edy.
Edy pun menjelaskan, kirab budaya yang yang diselenggarakan untuk memeriahkan perayaan imlek di Kabupaten Pati, juga turut mengundang jajaran forkompinda serta tokoh antar lintas agama. (J02 /A01) 

Januari 31, 2018

Jateng WOW Untuk Dongkrak Pariwisata Di Awal 2018

by
Jurnalpantura.Com, Semarang - Guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Jawa Tengah di tengah low seasonyang terjadi setiap awal tahun dari Januari hingga Maret, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meluncurkan program ‘Jateng Wow 2018’. Program tersebut secara resmi diluncurkan oleh Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP di Wisma Perdamaian, Selasa (30/01/2018) 
Peluncuran Jateng Wow 2018 ditandai dengan pemukulan perkusi oleh Gubernur Ganjar dan Kepala Disporapar Jateng Urip Sihabuddin.
Ganjar mengakui, awal tahun merupakan low season di mana kunjungan wisatawan mengalami penurunan setelah ramai di akhir tahun sebelumnya. Untuk itu dia berharap Jateng Wow yang digelar mulai 1 Februari hingga 31 Maret 2018 bisa menjadi daya ungkit pariwisata Jawa Tengah. Tentunya, semua itu tidak akan tercapai jika tidak ada dukungan dari berbagai pihak.
Ganjar meminta para pegiat pariwisata ikut menyemarakan program Jateng Wow dengan membuat berbagai event yang dapat mendatangkan pengunjung, khususnya bagi pelaku hotel dan destinasi wisata. Banyaknya event yang dibuat akan memunculkan keramaian-keramaian yang akan menarik banyak pengunjung.
“Saya usul, bisa tidak antar hotel membuat event bersama atau giliran minimal setiap weekend. Terbayangkan tidak kalau setiap weekend akan ada show apapun di salah satu hotel atau di salah satu destinasi wisata dengan diskon yang diberikan,” katanya.
Selain event, Ganjar juga meminta kepada para pegiat pariwisata untuk terus memublikasikan program Jateng Wow ini setiap harinya melalui media-media sosial yang ada, baik twitter, instagram, hingga facebook. Tidak hanya memviralkan, mereka diminta menceritakan tempat-tempat destinasi wisata, kuliner-kuliner khas dan juga event-event yang diselenggarakan agar dapat diketahui oleh masyarakat luas.
“Seluruh pegiat pariwisata tiap hari harus memublikasikan event, kegiatan, dan diskon yang diberikan. Kalau perlu buat lomba kecil-kecilan yang menceritakan destinasi wisata, kuliner menarik baik berupa tulisan, gambar, maupun video, agar kita bisa mewujudkan Jateng benar-benar Wow, wow, dan wow,” serunya.
Ditambahkan, Jateng Wow diikuti 148 peserta yang terdiri dari 92 hotel dan resort, delapan restoran, 23 daya tarik wisata, 22 biro perjalanan, serta tiga perusahaan penyedia jasa transportasi. Mereka akan menawarkan kemudahan bagi wisatawan seperti keringanan paket wisata, potongan harga untuk hotel dan biaya masuk objek wisata.
Kepala Disporapar Jateng Urip Sihabuddin menambahkan selama berlangsungnya program Jateng Wow, pihaknya menargetkan kenaikan kunjungan wisata sebesar 20 persen pada Februari-Maret.
“Dari tahun ke tahun jumlah wisatawan pada Februari-Maret selalu lebih rendah dibandingkan bulan-bulan yang lainnya. Sehingga dengan adanya Jateng Wow ini kita targetkan kenaikan 20 persen,” ungkapnya. (J02) 

Januari 28, 2018

Kenalkan Embung Plered Pada Wartawan, Kapolres Blora Ajak Gowes

by
Jurnalpantura.Com, Blora - Kapolres Blora AKBP Saptono bersama jajaran dan wartawan Blora menghelat acara gowes. 
Acara dimulai dari halaman Mapolres Blora kemudian bersepeda melintasi jalan raya Jepon kemudian belok ke jalan Desa Turirejo, Desa Bangsri Kecamatan Jepon menuju finsih di embung Plered di Desa Purworejo Kecamatan Blora.
Sepanjang perjalanan, Kapolres dan jajaran menyapa warga masyarakat sekitar dan melambaikan tangan sambil mengayuh sepeda. Selain itu mendapat pengawalan dari petugas Sat Lantas.
Setiba di Embung Plered, serangkaian agenda diselenggarakan, diantaranya penanaman ratusan bibit pohon tanaman keras dan penebaran bibit ikan di lokasi embung Plered.
Dalam sambutannya, Kapolres AKBP Saptono antara lain menyampaikan, kegiatan ini untuk menyambung silaturahmi dan komunikasi antara Polri dan insan pers agar tetap terjaga.
“Jadi kegiatan ini selain olah raga bersepeda, agar tetap terjaga silaturahmi dan komunikasi antara wartawan dan Polisi. Wartawan butuh informasi dan polisi perlu publikasi di media,” ujar Kapolres.
Selain itu, kata Kapolres, kegiatan itu untuk mendukung dan mempromosikan potensi wisata , khususnya di kawasan embung Plered sehingga bisa dikenal dan mendorong pergerakan ekonomi warga masyarakat setempat.
Kegiatan yang sama, kata Kapolres, bisa diagendakan rutin setiap bulan.
Pada kesempatan yang sama, Kapolsek Blora AKP Slamet mewakili Forkopimca Blora dalam sambutanya anatara lain mengemukakan, embung Plered dibangun pada lahan seluas lima hektar dengan tampungan air (genangan) seluas tiga hektar dengan volume 18 ribu kubik.
“Air embung ini bisa dimanfaatkan untuk pertanian dan air minum ternak. Sedangkan bibit ikan yang di tebar nantinya kalau sudah besar bisa dimanfaatkan oleh warga. Dan yang lebih penting untuk obyek wisata sehingga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat wilayah Blora Selatan,” ujarnya.
Sebelumnya diserahkan secara simbolis bibit pohon tanaman keras dan bibit ikan dari SMPN 1 Jepon dan salah satu kontraktor bangunan yang menangani pekerjaan embung Plered kepada Kapolres Blora dan perwakilan wartawan Blora.
Selanjutnya dilakukan penanaman dan penebaran bibit ikan oleh Kapolres, Wakapolres, Kabag, Kasat dan Kapolsek. Acara dimeriahkan hiburan musik dengan menampilkan atis lokal.
Selain wartawan media cetak, online dan elektronik, hadir pada acara antara lain Camat Blora Sarmidi, SP, Kades dan perangkat desa Purworejo serta perwakilan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blora. (J02) 

Desember 22, 2017

Wisata Dewi Mangrove Sari, Tempat Selfie Unik Di Jalur Pantura Brebes

by
Jurnalpantura.Com, Brebes - Semilir angin yang berhembus sejuk, hamparan mangrove dengan akar yang kokoh, dan spot-spot selfie yang unik merupakan magnet bagi para turis untuk berkunjung ke Wisata Dewi Mangrove Sari, Desa Wisata Pandansari, Kaliwlingi.
Ada cerita di balik tersohornya keindahan Wisata Dewi Mangrove Sari itu. Siapa sangka sebelum disulap menjadi desa wisata mangrove, kawasan tambak tersebut terus-menerus mengalami musibah abrasi. Namun, karena kegigihan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mangrovesari, lokasi itu berhasil dipercantik menjadi desa wisata mangrove.
“Dewi Mangrove Sari ayu tenan. Pantaine apik. Saka musibah dadi barokah. Zaman biyen iki tambak sing kenging abrasi. Saiki lemahe klelep. Panjenengan semangate luar biasa, ikhtiar serius, dongane yo seriusBanjur disulap dadi pariwisata. Tibake sak donya wis sinau mangrove wonten mriku,” terang Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP saat dialog Ngopi Bareng Bersama Nelayan di Area Wisata Mangrove Sari, Kamis 21/12/2017. 
Yang membuat orang nomor satu di Jawa Tengah itu kagum, tiket masuk yang harganya terjangkau, hanya Rp 15 ribu tidak untuk operasional semata. Sebagian uang dari tiket masuk menjadi rezeki bagi anak yatim piatu desa setempat, hingga Pemkab Brebes.
Tikete mlebu Rp 15.000. Setahun bisa ngumpulke Rp 2,4 miliar. Sing gawe kula bangga, tibake tiket Rp 15 ewu kuwi didum-dum. Kanggo anak yatim piatu Rp 100 saben tiket, karang taruna Rp 100, RT/RW Rp 300, asuransi Rp 500, sewu kanggo desa, Rp 3.000 kanggo pemkab, liyane dienggo operasional. Rp 15.000 wis ngrezekini wong akeh,” ujarnya bangga.
Mantan anggota DPR RI itu berpesan, potensi desa wisata mangrove yang luar biasa harus dikelola sebaik mungkin oleh pokdarwis beserta warga setempat. Kebersihan wajib dijaga. Supaya khas, kuliner yang dijajakan pun adalah aneka olahan laut.
Mengko dikelola sing apik, kebersihane dijaga tenan. Panganan sing didol niku nek iso kabeh sumbere saka laut. Kulinere iwak, kepiting, kerang, rumput laut. Suvenire digawe sing luwih apik. Pemasarane aja mung leaflet lan email. Saben dino gawe videogram, upload, ceritakno apike desa mangrove iki,” pesannya.
Ganjar berharap, sebagian pendapatan dari operasional Wisata Dewi Mangrove Sari dapat disisihkan untuk beasiswa bagi pelajar atau mahasiswa setempat. Seperti praktik yang telah dilakukan oleh pengelola Umbul Ponggok, Klaten.
Kula usul, nek iso dienggo beasiswa. Dadi mengko kabeh bisa sekolah sing duwur. Niki inspirasine saka Klaten, Umbul Ponggok. Umbul Ponggok niku setahun bisa Rp 10 miliar luwih. Niku wonten program satu rumah, satu KK, satu sarjana,” pungkasnya.(J02) 

Desember 17, 2017

Perkenalkan Sebagai Sentra Durian, Desa Margorejo Adakan Festival Durian Ace

by
Jurnalpantura.Com, Kudus - Belum banyak yang tahu jika salah satu Desa yang ada di Kabupaten Kudus tepatnya di Kecamatan Dawe yaitu Desa Margorejo merupakan Desa penghasil buah Durian dan buah Ace.

Sebagai desa yang selama ini menghasilkan buah durian tidak salah jika kelompok Sadar Wisata Desa Margorejo kecamatan Dawe, Endahing Margorejo mengadakan Jalan Sehat dan Festival Buah Durian Ace, Ahad 17/12/2017.

Dengan mengambil rute sejauh 3km yang melintasi beberapa perkebunan Durian milik warga, peserta jalan sehat bisa menikmati segarnya udara dan juga indahnya pemandangan.
Dengan Start dan Finish dari Kolam Redi Ayu - Dukuh Pelang - Dukuh Gading - kembali ke Kolam Redi Ayu.

Jalan Sehat dan festival Durian Ace ini juga dihadiri oleh, Mss'an SE MM (Ketua DPRD Kab Kudus), Drs Noor Yasin MM (Sekda Kab Kudus), Drs Budi Utomo SH (Camat Dawe) dan Ahmad Baskoro.Amk (Kades Margorejo).

Drs Noor Yasin MM (Sekda Kab Kudus) dalam sambutanya menyampaikan Rasa syukur kepada Allah SWT yang mana pada pagi hari ini kita semua masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan gerak jalan santai.

"Mewakili Pemerintah Kab Kudus mengucapkan banyak terima kasih atas semua partisipasi dan dukungan dari semua pihak sehingga terlaksana acara ini"

Sebagai penghasil buah Durian Ace, Desa Margorejo termasuk Desa Wisata di wilayah Kab Kudus yang menjadi sentralnya buah Durian dan rambutan kami harap kan tahun depan Festival ini bisa ditingkatkan lebih meriah lagi untuk menarik pengunjung, lanjut Noor Yasin.(J02)

November 16, 2017

Aura Mistis Kawasan Oro-oro Kesongo Jadi Objek Wisata

by
JURNALPANTURA.COM, Blora - Ada beberapa tempat di kawasan Nusantara yang mempunyai daya tarik wisata karena Aura Mistisnya.Salah satunya ada di desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora. 
Perlu keseriusan mewujudkannya dan sinergitas antara pemangku kebijakan dan pemerintah desa setempat,  Untuk mengenalkan kawasan Oro-oro Kesongo kepada publik agar potensi sebagai salah satu objek wisata. 
Tanah yang masih memiliki aktivitas menyemburkan lumpur dan gas belerang itu luasnya lebih dari dua hektar dikenal mistis dan memiliki cerita rakyat yang membumi. Bahkan, sering dilakukan sebagi tempat ritual untuk meminta pesugihan.
”Dari cerita rakyat, aura mistis dan lokasi yang indah serta menarik, saya kira tidak cukup selalu diwacanakan terus menerus. Harus berbenah, seperti menyusun lay out dan setting kawasan. Siapa yang mengelola, termasuk dipasang gazebo dan proteksi bagi para pengunjung,” kata peminat potensi wisata alam Oro-Oro Kesongo, Hastati, di Blora, Rabu 15/11/2017.
Lebih lanjut disampaikan, saat mengunjungi kawasan itu, tidak dijumpai papan nama atau pagar pembatas antara lahan pertanian produktif dengan oro-oro kesongo. Bahkan, akses jalan menuju ke lokasi belum mendukung karena masih melewati pematang jalan pertanian.
“Papan nama lokasi Kesongo belum ada. Perlu ada pagar pembatas yang memisahkan lahan produktif pertanian dengan lokasi tersebut,” ujarnya.
Sunadi, salah seorang perangkat desa Gabusan mengemukakan wacana untuk mengembangkan kawasan oro-oro Kesongo sebagai lokasi wisata alam sudah lama dibicarakan. Hanya saja, sampai saat ini belum terwujud. Bahkan, warga sering kawatir akan terjadi semburan lumpur disertai gas secara tiba-tiba.
“Saat ini akses jalan menuju Kesongo perlu dibangun. Kalau aktivitas semburan sudah jarang terjadi, paling hanya letupan kecil. Terakhir, tahun lalu terjadi semburan lumpur setinggi lebih kurang empat meter, itu pun tidak lama. Bahkan ada yang mengabadikan melalui video hand phone,” kata Sunadi.
Hal senada disampaikan Pujo, salah seorang pegiat wisata alam setempat. Menurutnya, promosi kawasan Kesongo sudah kerap dilakukan melalui media sosial.
“Saya kira, Kesongo sudah cukup dikenal. Apalagi kita beberapa kali mengenalkan melalui sosial media. Bahkan beberapa media cetak juga memprmosikan. Tinggal bagaimana memanfaatkannya menjadi ikon yang diminati pengunjung dan mendorong pendapatan warga setempat,” katanya.
Sementara itu tenaga pendamping desa Kecamatan Jati, Tri Juwanto mengatakan kesan mistis di kawasan Kesongo justru menjadi daya tarik tersendiri.
“Saya kira ada beberapa tempat wisata yang selalu dikaitkan dengan cerita rakyat setempat. Termasuk beberapa aturan yang harus ditaati oleh para pengunjung. Tidak terkecuali dengan Kesongo,” jelasnya.(J02) 

September 24, 2017

Marchingband AMNI Hibur Masyarakat Kudus Dalam Karnaval Budaya

by
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Kirab seni dan budaya Kudus dalam rangka HUT Kabupaten Kudus ke 468 Benar-benar berlangsung denga meriah, ribuan warga Kudus memadati di alun-alun Simpangtujuh Kudus untuk menyaksikan jalannya Karnaval Budaya yang sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat kota Kudus, Sabtu 23/09 /2017. 

Demi suksesnya kegiatan tersebut, Polres Kudus menerjunkan 127 personil guna melaksanakan pengamanan di lokasi maupun
Pengamanan di penggal-penggal jalan terkait penutupan kawasan Simpang tujuh kudus dari seluruh kendaraan bermotor melalui pengalihan arus.

Kapolsek Kota AKP M Khoirul Naim selaku Perwira Pengendali Pengamanan mengatakan, anggota sudah kami sebar dibeberapa titik baik yang berseragam dinas maupun yang berpakaian preman.
Disamping itu, gelar festival budaya dalam rangka hari jadi Kota Kudus ke 468 yang dihadiri Muspida Kudus tersebut mengambil tema “Dengan hari jadi kota KUDUS ke 468 kita wujudkan masyarakat yang berbudaya KUDUS semakin sejahtera”.

Dibuka oleh Bupati Kudus H. Musthofa, gelaran ini diikuti oleh 21 kelompok peserta mulai dari siswa-siswi SMP, SMA/SMK dan UPT pendidikan di sekecamatan Kudus. Diawali dan di buka oleh tampilan Marchingband dari AMNI (Akademi Maritim Nasional Indonesia) Semarang dengan 290 personilnya mampu membuat kagum masyarakat yang hadir dalam event tersebut yang selanjutnya diikuti berturut-turut oleh kelompok peserta yang menampilkan atraksi dan mempamerkan busana yang dikenakannya.(J02) 

September 22, 2017

Tebokan Jenang, Asal Mula Desa Kaliputu Sebagai Penghasil Jenang

by
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Kaliputu adalah salah satu nama Desa yang ada di kecamatan Kota Kabupaten Kudus.Desa Kaliputu terkenal sebagai desa sentra Jenang, salah satu makanan khas  Kudus.Ada sejarah panjang kenapa Desa Kaliputu menjadi sentra Jenang.Berbagai merek jenang yang saat ini terkenal dan dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan baik asing maupun domestik berasal dari Desa Kaliputu.

Konon cerita, Ada seorang Nenek yang bernama Mbah Dempok Soponyono.Suatu hari salah satu Cucu dari Mbah Soponyono terkena gangguan Banaspati , Salah satu Jin jahat.Saridin atau yang dikenal sebagai Syeh Jangkung, Murid dari Sunan Kudus yang saat peristiwa tersebut melintas.Kemudian Saridin memerintahkan Ibu-ibu setempat agar membuat bubur dari bahan tepung beras dan diberikan kepada cucu Mbah Dempok dan akhirnya sembuh, terbebas dari gangguan Banaspati.

Dari peristiwa tersebut secara turun temukan, Masyarakat Desa Kaliputu mengadakan acara " Tebokan Jenang" Sebagai rasa syukur terhadap Allah Swt dengan menggelar ritual Arak-arakan atau kirab yang membawa jenang berwarna-warni yang di sajikan di dalam sebuah Tebok an atau tempat sejenis tambah.

Sejak saat itu Pemerintah Desa Kaliputu dengan didukung penuh oleh Dinas Pariwisata kabupaten Kudus secara rutin mengadakan acara "Tebokan Gunung" yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Muharram.Untuk tahun ini acara Kirab Tebokan Jenang di laksanakan pada hari Kamis 21/09/2017.

Event tahunan ini diagendakan sebagai wisata budaya sekaligus sarana promosi bagi pengusaha jenang.Ribuan warga memadati sepanjang perjalanan yang di lewati kirab Tebokan Jenang tersebut, di mulai dari Jl Sosrokartono hingga tempat Finish di Balai Desa Kaliputu. Tidak sampai lama, Warga yang sudah menunggu berjam-jam,  berebut jenang yang di jadikan kirab saat sampai di Balai Desa Kaliputu, Warga berharap keberkahan dari Jenang dan Makanan lainya yang ikut dikirab.

Suyadi kepala Desa Kaliputu menjelaskan " Banyaknya gunungan yang ikut dalam kirab sebagai simbol kemakmuran masyarakat kaliputu". Untuk itu dirinya berharap  event tradisi tahunan ini bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.Sehingga warga Desa Kaliputu sebagai penghasil jenang bisa merasakan manfaat dari para wisatawan yang datang, sehingga menjadikan kemakmuran bagi masyarakat.(J02)

September 21, 2017

Kembul Bujana Tradisi Warga Semarang Sambut 1 Muharram 1439 Hijriah

by
JURNALPANTURA.COM, Semarang  -  Peringatan tahun baru Islam 1 Muharram 1439 Hijriah di peringati warga  Semarang dengan mengadakan "kembul bujana" di Balai kota Semarang, 20/09/2017.

"Kembul bujana" merupakan tradisi menyantap tumpeng secara bersama-sama merupakan yang kedua kali digelar Pemerintah Kota Semarang menyambut 1 Muharram, setelah tahun lalu digelar di Lapangan Simpang Lima Semarang.

Dalam "kembul bujana" itu, semua yang hadir duduk bersama mengelilingi tumpeng, sembari menunggu dilantunkannya doa sebagai harapan untuk sesuatu yang lebih baik untuk tahun depan dibandingkan tahun ini.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan "kembul bujana" itu merepresentasikan kesejajaran dari semua orang dari berbagai latar belakang, baik jenjang kepangkatan, status sosial, maupun masyarakat biasa.

"Semuanya duduk bersama untuk menikmati nasi tumpeng secara bersama-sama. Dalam membangun Kota Semarang, lepaskan segala sekat perbedaan yang ada, mari bersama-sama," kata orang nomor satu di Kota Semarang itu.

Perbedaan, lanjut dia, jangan sampai menjadikan pembangunan terhambat, apalagi cuma perbedaan warna, sebab pembangunan harus melibatkan seluruh masyarakat dan berbagai pihak, bukan hanya tanggung jawab pemerintah.

Yang punya pangkat, kata dia, "dolane" hanya dengan yang punya pangkat, yang punya uang juga dengan hanya yang punya uang, lanjut Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, akan membuat sebuah kota sulit maju.

Hendi berharap warga Semarang sudah tidak lagi berbicara mengenai kepentingan pribadi, melainkan kepentingan bersama untuk menjadikan Kota Semarang lebih maju, lebih baik, dan lebih hebat ke depannya.

"Jangan hanya berpikir Semarang wis ngei (sudah memberi, red.) apa karo (untuk) aku, tetapi aku wis ngei apa kanggo Kota Semarang. Membangun sebuah kota, perlu banyak tangan," pungkasnya.

Hadir dalam "kembul bujana" menyambut 1 Muharram 1439 Hijriah itu, di antaranya Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, dan jajaran musyawarah pimpinan daerah.(J02)

September 20, 2017

Antusiasme Warga Kudus Ikuti Khotmil Qur'an Dan Seribu Tumpeng

by
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Dalam rangka Peringatan HUT Kabupaten Kudus yang ke 468. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengadakan acara Khotmil Qur'an dan Kenduri Seribu Tumpang di Alun alun Simpang Tujuh Kudus,  Rabu 20/09/2017. 

Selain dihadiri oleh Bupati Kudus H Musthofa, turut serta beberapa pejabat yang hadir di acara Khotmil Qur'an dan Seribu tumpeng tersebut, diantaranya,  Ketua DPRD Kudus Mas'an SE MM, Serda kabupaten Kudus Drs.Noor Yakin, Kasdim 0722/Kudus Mayor Inf Sagimin, Kepala OPD dan UPT Kabupaten Kudus, Para kepala Sekolah dan Tokoh Agama/Masyarakat.

Musthofa W Bupati Kudus dalam sambutannya pada acara mengatakan Malam ini penuh dengan kebahagiaan dan keberkahan dalam rangka memperingati HUT kabupaten Kudus yang ke 468 dimana kegiatan ini memang saya buat sebagai tradisi yang dilaksanakan tiap tahun dengan menyelenggarakan khotmil Qur'an dan kenduri 1000 tumpeng." Siapapun bupati Kudus terpilih nantinya tetap melanjutkan tradisi yang baik ini dan mengawali rangkaian kegiatan HUT Kabupaten Kudus dengan melaksanakan khotmil Qur'an karena kabupaten Kudus merupakan kota santri , kota mengaji dan kota Agamis"

Rangkaian kegiatan peringatan HUT kabupaten Kudus ke 468 dilaksanakan dari tanggal 20- 30/09/2017.(J02) 

September 10, 2017

Semarang Fashion Parade

by
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Pemerintah Kabupaten Semarang dalam hal ini Dinas Perindustrian Semarang mengadakan Panggung Semarang Fashion Parade selama 3 hari.Dengan konsep catwalk outdoor, yang berlangsung di kawasan Kota Lama (Semarang Kreatif Galeri) di mulai Kamis 07/09/2017, event kali ini mengusung tema " Semarang Fashion Parade”ibarat seorang gadis cantik yang dibalut dengan fashion yang anggun dan luar biasa.

Kepala Dinas Perindustrian, Nurjanah, menjelaskan bahwa  melalui ‘Semarang Fashion Parade’ ini disamping mengedepankan kreativitas anak bangsa, juga menampilkan produk lokal karya para desainer dan IKM dari berbagai cluster dan akademisi.Ada 60 standar yang memamerkan busana,  sepatu, tas, aksesori, make up wajah dan rambut dan batik karya perancang Semarang. “Harapannya melalui event ini dapat menumbuhkembangkan pasar fashion Kota Semarang, menjadi ajang promosi bagi pelaku pasar fashion, serta mempertemukan pasar bagi pelaku pasar fashion,”ujarnya.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi menyampaikan bahwa di akhir bulan Juli, Pemerintah Kota Semarang mengusulkan kepada Badan Ekonomi Kreatif 3 sub sektor unggulan Kota Semarang yaitu Arsitektur, game dan aplikasi, serta sub sektor fashion.“Sehingga ini menjadi satu PR buat kita semua untuk membuktikan bahwa fashion memang benar-benar menjadi sub sektor unggulan ekonomi kreatif Kota Semarang,” ujanya.

Selain pameran, dalam acara tersebut dilakukan juga fashion show yang memamerkan hasil karya desainer-desainer hebat.(J02)

September 08, 2017

Gebyar Haornas 2017 Resmi Di Buka Oleh Wakil Wali kota Magelang

by
JURNALPANTURA.COM, Magelang - Wakil Walikota Magelang, Windarti Agustina secara resmi membuka Gebyar Haornas 2017 di Alun-alun Kota Magelang, Kamis 07 /09 /2017. Acara gebyar Haornas nantinya akan diisi berbagai kegiatan seperti seminar olahraga, lomba mewarnai, senam massal, peragaan busana, talkshow dan pementasan wayang kulit.
“Harus kita dukung gebyar Haornas karena menjadi daya tarik tersendiri bagi Kota Magelang. Kegiatan tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan bisa menggerakkan perekonomian masyarakat,”kata Windarti
“Gebyar Haornas juga dimeriahkan dengan pameran antara lain produk Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM), pariwisata, pendidikan dan tekhnologi,”kata Windarti pada acara tersebut yang juga dihadiri oleh Asisten Deputi Pembudayaan Sentra Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Teguh Raharja dan para pejabat di Kota Magelang.
Lebih lanjut dijelaskan ada sekitar 40 gerai yang terlibat dengan didukung 20 pihak sponsor dalam penyelenggaraan Haornas 2017. Adapun peserta gerai terjauh dari Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Ia mengatakan Gebyar Haornas sebagai momentum mewujudkan partisipasi berbagai elemen guna mendukung pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian dan kemajuan ekonomi kerakyatan.
Sementara itu Teguh Raharja mengatakan pihaknya berusaha semaksimal mungkin untuk mensukseskan penyelenggaraan Haornas. Berbagai rangkaian peringatan Haornas juga telah dilaksanakan di berbagai daerah
“Tiap Provinsi sudah melaksanakan berbagai kegiatan, ada liga desa, liga pelajar serta Gowes Pesona Nusantara. Untuk Gowes Pesina Nusantara akan menempuh sekitar 5000 km dan dikemas dengan kegiatan pengambilan tanah dan air dari masing-masing daerah,”kata Teguh.
Monumen Tanah dan Air Persatuan tersebut merupakan hasil penyatuan tanah dan air dari berbagai daerah yang akan disatukan pada puncak acara Haornas Sabtu mendatang. Dengan adanya monument ini akan semakin dikenal oleh masyarakat luas dan meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung di Kota Magelang.(J02) 

Top Ad 728x90