Top Ad 728x90

Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Januari 19, 2018

Kelestarian Seni Dan Budaya Harus Jadi Tanggung Jawab Semua Pihak

by
Jurnalpantura.Com Kudus - Keberagaman seni dan budaya Jawa Tengah menjadi bagian dari kekayaan budaya nusantara. Agar terjaga kelestariannya, semua harus terlibat memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa seni budaya daerah merupakan kekayaan negara bernilai tiada terhingga, maka harus dirawat dan dihidupkan.
“Semua harus terlibat, termasuk bapak dan Ibu yang ada di sini untuk ikut melestarikan budaya terutama kepada generasi muda bangsa. Kekayaan seni budaya daerah tidak hanya nguri-uri tetapi juga harus diuripi atau dihidupkan,” ujar Sekda Jateng Dr Ir Sri Puryono KS saat pengarahan sekaligus membuka Rakerda Komite Seni Budaya Nasional (KSBN) Jateng di Hotel Swiss Belinn Saripetojo Surakarta, Jumat 19/01/2018. 
Rakerda yang dirangkai dengan sarasehan seni budaya nusantara bertema “Peningkatan Pemahaman Ideologi Negara” itu, dihadiri Mayjend TNI (Purn) Hendardji Soepandji SH, GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, serta sekitar 200 peserta terdiri dari pelaku seni, budayawan, serta perwakilan instansi terkait dari 35 kabupaten/ kota se-Jateng.
Menurut Sekda, menjaga dan melestarikan budaya nusantara bukan berarti antibudaya asing. Melainkan bisa memilah dan memilih, saring dan sharing budaya yang beragam di tengah era globalisasi dan digitalisasi seperti sekarang, serta bagaimana pemahaman terhadap ideologi negara.
Tidak kalah penting adalah memberikan pemahaman tentang budaya daerah sejak dini kepada anak-anak, dan mengajak mereka mencintai budaya asli nusantara. Tidak perlu yang muluk-muluk, mulailah dari tingkat keluarga dengan pengenalan unggah-ungguh, kesenian dan budaya lokal, kuliner, kemudian di sekolah melalui pelajaran muatan lokal.
Selain itu, berikan peluang atau kesempatan seluas-luasnya kepada generasi muda bangsa untuk melakukan kolaborasi budaya antar daerah. Terlebih Jawa Tengah memiliki kesenian dan budaya lokal yang khas di masing-masing daerah. Seperti tari Bedoyo. Gambyong, Topeng Ireng, Jaran Kepang, dan Lengger.
“Harapan saya mudah-mudahan bisa direnungkan, bagaimana agar seni budaya kita di Jawa Tengah yang hampir punah bisa bangkit kembali,” katanya.
Seiring kemajuan teknologi, imbuh Sri Puryono, keberadaan media sosial bisa membantu untuk membangkitkan dan menggerakkan masyarakat, mengenal dan melestarikan budaya nusantara. Apabila ada kegiatan, pagelaran, araupun segala hal yang menyangkut seni budaya, dapat disebarluaskan melalui media sosial.
“Kalau ada event terkait seni budaya yang diviralkan melalui media sosial, hal itu mampu mengundang orang datang berbondong-bondong. Seperti festival rambut gimbal, festival Sungai Serayu, reog paguyuban, ketoprak PNS di Kabupaten Pati namanya Praja Budaya,” terangnya.
Ketua Panitia Sarasehan dan Rakerda KSBN Jateng, Rofai MSi mengatakan, KSBN dibentuk dengan harapan berbagai kebudayaan dan kesenian lokal bisa dikembangkan dengan baik. Selain itu juga mampu menyaring dan menyeleksi masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan norma norma budaya indonesia.
“Maksud diadakannya kegiatan ini, adalah untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat khususnya pelaku seni dan budaya terhadap Pancasila sebagai  ideologi bangsa,” jelasnya.
Sedangkan tujuan kegiatan yang berlangsung dua hari atau Kamis-Jumat (18-19 Januari), imbuh Rofai, yaitu supaya tercipta kesamaan pemahaman dan sinergitas semua elemen masyarakat, termasuk pelaku seni dan budaya serta pemerintah. (J02) 

Desember 23, 2017

Sukanta Mantan Guru Sukses Jadi Pengusaha Pisang Raja

by
Jurnalpantura.Com, Kudus - Prospek bertani pisang merupakan potensi besar yang belum dikelola secara profesional oleh para petani di Kudus, padahal bertani pisang memiliki nilai ekonomi yang lebih menjanjikan dibanding dengan komoditas tanaman semusim lainya, sebab menanam pisang satu kali bisa panen seterusnya dari tunas tunas baru, artinya modal tanam satu kali bisa untung seterunya.

Tanah yang cukup subur di wilayah Kabupaten Kudus membuat komunitas petani pisang Kudus yang dipelopori oleh Sukanto warga Mlati Kidul, Kec kota kabupaten Kudus.
Mereka memberikan contoh dan sosialisai agar para petani mau membudidayakan pisang sebagai salah satu komoditas unggulan dan memilki profit yang tinggi.

Jenis pisang yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran adalah pisang raja, pisang ambon, kepok pipit dan pisang susu, Sukanto sendiri telah memulai menanam pohon pisang  raja di lahan pertanian seluas 5000 M2 di daerah Mlati Kidul Belakang komplek perkantoran Mejobo Kudus.

Berdasarkan pengakuan Sukanto, mengawali usaha Berkebun pisang baru sekitar  satu tahun.Ia mulai melirik dan akhirnya terjun dan menanam tanaman buah pisang ini setelah melihat prospek bertani pisang yang cukup menjanjikan.

Sukanto sendiri tidak memiliki latar belakang di dunia pertanian namun dia memiliki kecintaan dalam bidang pertanian, sehingga karena suka akhirnya memiliki semangat untuk belajar bidang pertanian, belajar dari teman dan juga melalui browsing di internet, tidak hanya sekedar teori tapi sekaligus praktek terjun bertani pisang.
Saat ini telah memiliki 800  pohon pisang dengan tumpangsari cabe rawit dan menanam berbagai jenis polowijo dan tanaman sayuran lainnya.

Sukanto sendiri memiliki opsesi dan cita-cita untuk bertani secara professional sudah cukup lama.Sebelumnya dia seorang guru akutansi di sebuah sekolah Taman Siswa di Kudus. Dari pengalaman mengajar disekolah selama 35 tahun, dia selalu memberikan bimbingan dan pelajaran kepada para siswa siswinya tentang ekonomi dan akutansi, dengan harapan ilmunya bisa dimanfaatkan bagi para siswanya untuk praktek langsung dilapangan.

Dari pengalamannya itulah bersama anaknya Hestitunggal giat memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada para petani disekitar nya untuk bertani yang produktif salah satunya adalah bertani pisang raja.

‘’Kebetulan mlati Kidul  dekat persawahan, jadi memang pas kalau kemudian saya terinspirasi  menjadi petani pisang,’’ jelasnya.Ia sendiri mulai menanam pisang di mLati Kidul ini baru 9 bulan lalu.
Awalnya dia melihat kondisi tanah di malti Kidul.Setelah diamati, ternyata tanah itu cukup subur untuk ditanami pisang raja yang berpotensi untuk diekspor.Dengan modal yang cukup, akhirnya bibit mulai didatangkan dan ditanam.

“Untuk merawat pisang, perlu teknik khusus. Misalnya, kontrol setiap hari, kebutuhan air harus cukup. Saat berbuah, buah pisang harus dijaga agar tidak dimakan oleh serangga atau terserang hama,” ungkapnya, Bahkan saya setiap pagi selalu melakukan kontrol rutin, satu persatu pohon pohon pisang saya cek, sambil mencabuti rumput, dan melihat pohon pohon yang terkena hama ulat ataupun lainnya, tambahnya.

Sukanto sendiri saat ini mulai menganalisa dan menghitung, prospek bertani pisang ini cukup cerah, dari menjual bibitnya saja sudah untung atau balik modal, “setelah saya amati satu persatu, pisang baru usia 4 bulan saja sudah mulai tumbuh tunas baru, ada yang 2 ada yang 3 tunas, bahkan ada yang 4 tunas, kalau dibuat rata rata 2 tunas per pohon maka tahun depan dari 800 pohon ini akan menjadi lebih dari 2 ribu pohon pisang”  terangnya.

Dari hasil surve di pasar tradisional sekitar Kudus, harga pisang raja cukup fantastis, satu tandan dengan isi 12 sisir bisa laku di atas 120.000, tergantung type dan jumlah sisirnya.
“Marketnya tidak hanya di Kudus saja. Tapi di Semarang, Jogjakarta, Bandung sudah banyak yang meminta. Kalau lokal yang minat kebanyakan diri bakul bakul atau toko toko buah’’ ungkapnya.

Dia menambahkan, usia panen pisang raja juga beraneka ragam. Bisa jadi, 10-11 bulan baru melakukan panen. Dengan begitu, petani yang menanam pisang jenis ambon bisa menuai untung.
“Saya kira di Kudus tanahnya cukup cocok untuk pisang jenis ini. Yang terpenting irigasi dan cara tanamnya yang pas,’’ pungkasnya. Bahkan Sukanta sendiri akan dengan senang hati menerima warga yang ingin berkonsultasi masalah pisang bisa menghubungi Hp 081914020218.(Taufiq/J02)

Desember 15, 2017

Sukrismiyarti Ibu Rumah Tangga Sukses Jadi Juragan Tas

by
Jurnalpantura.Com, Grobogan - Cita-cita harus setinggi langit dan tetap berusaha apapun profesi anda…mungkin ungkapan ini sangat tepat bagi anda yang ingin sukses walaupun anda saat ini masih bekerja sebagai seorang karyawan atau seorang ibu rumah tangga. Kesuksesan akan tetap anda dapatkan karena sukses adalah hak setiap orang.

Adalah Sukrismiyarti memiliki kesibukan sebagaimana layaknya seorang ibu muda pada umumnya. Yakni mengurus rumah tangga dan merawat ketlima anaknya yang masih belia. Luar biasanya, di tengah kesibukan seorang ibu rumah tangga yang sangat padat, Atik demikian nama panggilannya, seorang Ibu rumah tangga yang masih kelihatan awet  muda dan seperti anak kuliahan ini, tekun dan gigih melakukan kegiatan usaha yang tak kenal lelah.

Diusianya yang  38 tahun perempuan asli asal Grobogan jawa tengah ini mampu menemukan waktu untuk menjalankan bisnisnya di dunia aksesories tas cewek, dan bisnis tas yang digelutinya ini cukup pesat dan  hingga kini mampu menghasilkan omset puluhan juta rupiah setiap bulannya. Bagaimana bisa?
Atik mengaku memiliki jadwal yang paten untuk menjalankan bisnisnya. Pada pagi hari, Atik mengurus rumah, suami dan anaknya. Ketika anaknya sdh berangkat sekolah, dia mulai mengurus usahaa tas dan toko nya. Siang hari, Atik kembali menjalankan akitvitas ibu rumah tangga seperti menjemput anaknya, memasak, mencuci, dan lain-lain. Ketika sudah selesai, dia kembali mengurus bisnisnya.

Malam hari adalah waktu Atik untuk lebih aktif dalam melakukan istirahat wirid, tadabur dan sholat tahajud guna mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.
“Jangan pernah menelantarkan keluarga. Boleh saja kita berbisnis, akan tetapi keluarga tetap nomor wahid,” kata Atik sambil tersenyum. “Saya yakin bahwa ketika kita mampu mengatur prioritas utama kita (yakni keluarga, red.) maka hal-hal lain akan mengikuti.” Demikian prinsipnya, “bekerja tidak mesti harus di menjadi pegawai negeri atau karyawan, di dalam rumah pun bisa kita ciptakan sebagai kantor untuk menjalankan bisnis” demikian ungkap Atik dengan Redaksi Jurnal Pantura saat berbincang-bincang di dalam ruang khusus miliknya.

Awal kisah suksesnya
Atik adalah anak kedua dari 3 bersaudara lulusan dari sebuah SMK di Grobogan jawa Tengah, meski lulus dengan nilai yang bagus, setelah  lulus SMK  tahun 1998 bercita cita untuk meneruskan kuliah, namun cita cita tersebut kandas di tengah jalan karena tidak ada biaya untuk melanjutkan kuliah.
 Atik sempat bekerja di sebuah swalayan luwes di pusat kota Grobogan selama 6 bulan sampai dia menikah pada tahun 2002, setelah menikah Atik tidak melanjutkan bekerja di Swalayana karena tidak diijinkan oleh suaminya.

Atik adalah anak dari seorang dari petani di desa Geyer, yakni putri kedua dari Kasno, dan saat ini Atik menetap di Kwarungan kec Purwodadi Jawa Tengah  mengikuti suaminya yang seorang PNS di Pemda Grobogan.
Dalam hatinya, Atik memang tidak ada niat mencari pekerjaan di luar, karena dia ingin dirumah dan fokus memelihara anak-anaknya sendiri dan memiliki usaha secara mandiri.
Sering dia diarahkan oleh orang tuanya dulu,  untuk mencari/melamar pekerjaan agar berhasil seperti para tetangganya yang lain, namun hati kecilnya mengatakan “tidak” dia tetap cuek memilih berkarir menjadi Ibu Rumah Tangga saja. Namun begitu,  perempuan cantik yang telah memiliki 5 anak ini, selain berusaha juga rajin berdoa kepada Illahi Robbi, setiap berdoa selalu memohon diberi pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa meninggalkan anak dan keluarganya di rumah.

Akhirnya doanya dikabulkan, awal tahun 2010, saat sedang booming medsos Facebook, Atik melirik dan membidik usaha tas cewek yang lagi booming di gandrungi oleh kaum perempuaan, Atik melihat dan membaca peluang usaha itu, dia dapat ide memiliki usaha tas karena, setiap hari selalu dia lihat cewek dan ibu-ibu jalan-jalan selalu menenteng tas di pinggangnya. “wah ini peluang bagus, kalau jualan tas pasti laku keras” pikirnya.

Melalui cara yang unik dia memulai dan membuka usaha tas itu, unik karena Atik seebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk menjahit. Dia belajar brsama temannya secara otodidak dan mandiri, namun dengan usaha yang gigih, akhirnya lama lama Atik mahir menjahit sendiri dan bisa membimbing para karyawannya untuk memproduksi tas tasnya yang cantik.

Akhirnya dia mengetahui bagaimana menjalankan usaha tas ini, Atik  bisa melakukan komunikasi dengan teman-temannya diberbagai daerah melalui Facebook, browsing sana browsing sini dan akhirnya banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman baru di dunia bisnis produkdi tas dan cara  pemasaraannya.
 Berkat restu dan ijin dari  suaminya dan suaminya mendukung penuh usaha nya, lalu Atik mantap menggeluti bidang tas ini. Pertama kali melakukan pemasaran secara getok tular, selanjutnya lamaa kelamaan dia membuka toko untuk memajang produk produknya.

Atik menjual tas dengan bahan bahan kulit yang berkualitas, setelah berjalan beberapa bulan dan sudah banyak yang melakukan order, mulailah dia berfikir untuk menambah karyawan dalam membantu kegiataan usahanya, hingga sekarang ada 8 karyawan yang bekerja dengannya.

 Atik merasa bahagia karena dngan menggeluti usaha secara mandiri juga bisa membina dan  membuka lapangan pekerjaan bagi para karyawan, sehingga kemanfaatanya juga bisa di rasakan oleh orang lain. “ sebaik baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain” terangnya dengan tersenyum dia mendalil.

Mulailah Atik ibu rumah tangga dengan 5 anak ini, lebih fokus menggeluti bidang usaha tas dan aksesoris,dan telah memiliki penghasilan yang tidak kalah dengan gaji seorang pegawai kantoran. Dengan menjual tas tas cantik ini, rata-rata omzet  Atik antara 30 sampai 40 juta  sebulan.Luar biasa karena hanya di kelola secara mandiri.
Untuk menguatkn jaringan dan membangun kominitas wirausahawan, kini Atik berencana ingin menyatukan para wirausahawan di Grobokan dalam sebuah wadah Federasi Pekerja Mandiri /FPM, diharapkan dg adanya wadah tersebut wirausahawan di kab grobogan bisa saling berbagi info dan saling membantu. (mfiq/J02)

September 22, 2017

Merubah Limbah Jadi Barang Kerajinan Indah

by
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai sekarang ini menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola.

Diperlukan waktu minimal puluhan bahkan sampai ratusan tahun lamanya untuk bisa membuat sampah bekas kantong plastik itu benar-benar terurai dan menyatu ke dalam tanah.

Karena Sampah kantong plastik telah menjadi musuh serius bagi kelestarian lingkungan hidup. Jika sampah bekas kantong plastik itu dibiarkan di tanah, maka akan menjadi polutan yang signifikan. Kalau dibakar, sampah-sampah itu pun akan secara signifikan menambah kadar gas rumah kaca di atmosfer.

Adalah Sri Seruni, seorang ibu rumah tangga yang peduli dengan lingkungan sekitarnya, beralamat kan di Jati Kulon RT 03 RW II Kecamatan Jati Kabupaten Kudus mendirikan tempat daur ulang yang di beri nama Seruni Handmade.

Bertahun-tahun Sri Seruni merasa sedih melihat masyarakat sekitarnya banyak yang membuang sampah di sungai.Akhirnya dengan memberanikan diri Seruni, berusaha menyadarkan dan mengimbau warga agar tidak membuang sampah di sungai dan mengajak untuk mengumpulkan sampah-sampah plastik, untuk kemudian sampah plastik tersebut di buat berbagai macam kerajinan.

Sejak tahun 2012, Seruni berkeliling memberi pengertian kepada warga khususnya ibu rumah tangga, akan pentingnya menjaga kelestarian alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, khususnya sampah plastik.Tidak Hanya mengimbau tetapi Seruni juga memberikan pelatihan kepada para ibu-ibu bagaimana cara memanfaatkan sampah-sampah plastik menjadi barang bernilai, seperti kerajinan dan aksesoris

Seperti hari ini, Seruni memberikan pelatihan kepada ibu-ibu anggota Bkm Mandiri Sejahtera Wergu Wetan Kecamatan Kota Kabupaten Kudus.
Dengan antusiasme yang tinggi para ibu peserta pelatihan ikut mencoba membuat sendiri beberapa kerajinan yng setiap hari ditemui dari bahan plastik-plastik yang sudah tidak terpakai.
Dari mulai membuat vas bunga sampai tempat Aqua, semua berasal dari limbah rumah tangga khususnya yang berbahan plastik.

Ketua BKM Mandiri Sejahtera, Siti Chotimah. SE,"Pelatihan ini merupakan program dari KOTAKU, yang bertujuan agar warga lebih berperan dalam menjaga lingkungan".Apalagi hasil dari pelatihan ini juga bisa menjadi pemasukan tersendiri  bagi para ibu.karena hasil kerajinan dari daur ulang ini bernilai tinggi.(J02)

Agustus 02, 2017

20 UMKM Ikuti Pelatihan Score Plus

by


JURNALPANTURA.COM, BLORA - PT HM Sampoerna menseponsori Pelatihan Score Plus bagi pelaku UMKM yang ada di Kabupaten Blora.Senin 31/07/2017 Bupati Blora Djoko Nugroho mendorong pelaku UMKM di Blora untuk meningkatkan produktivitas, kualitas dan daya saing serta wilayah pemasaran,harapnya menutup Pelatihan Score Plus di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora.

“Terima kasih kepada PT HM Sampoerna yang telah mensponsori penyelenggaraan pelatihan Score Plus sejak bulan April lalu, semoga kerjasama serupa dapat terus ditingkatkan di masa mendatang,” ujarnya, dengan adanya pelatihan tersebut akan membawa dampak positif bagi pelaku UMKM,juga membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar,sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat Blora.

Pragramme Manager ILO Yanuar Rusandi menuturkan bahwa ILO sebagai salah satu organisasi di bawah naungan PBB memiliki peran untuk menjalin kerjasama antara pekerja dengan pengusaha, sehingga perusahaan dapat produktif dan kondusif. 


“Program Score Plus masuk ke Indonesia sejak tahun 2009 yang lalu dan saat ini telah diikuti oleh 206 perusahaan yang tersebar di 14 provinsi se-Indonesia termasuk Jawa Tengah,” katanya. 


Yanuar yakin, bahwa program Score Plus ini akan memberikan dampak positif bagi produktivitas UMKM di Kabupaten Blora dan akan mampu menekan angka pengangguran. 

Kanaya Konveksi, salah satu peserta pelatihan merasakan manfaat yang didapat dari pelatihan Score Plus. Pencatatan pemesanan kini lebih rapi dan terorganisir dengan tata letak peralatan dan perlengkapan yang lebih efektif. Selain itu, manajemen keuangan pun dirasakan lebih baik berkat adanya pelatihan ini, sehingga omzet pun meningkat. 


20 besar UMKM peserta pelatihan Score Plus adalah WNS Taman Kreatif, Rumah Tahu Bakso UD. Buijie, Kanaya Konveksi, Omah Sofie, Jadi Art, Grafika Production, Mumpuni Frame & Galery, Griya Batik Nusantara, Roti Restu Ibu UD Nusantara.


Selanjutnya, Zevana, Rumah Batik Triji, Keripik Cap Bawang, Omah Zuppa Mayangsari, Dean’s rempeyek, Antoseno Keramik Balong, Lumpia Lovin, Rumah Mode Een, UD Suryo Putra, Batik Tulis Balun Jaya dan Wingko Babat Spoor Lokomotif.(J01/ER02)

Juli 25, 2017

KORAMIL KARANGANYAR AMBIL BAGIAN DALAM JAMBANISASI

by


JURNALPANTURA COM, DEMAK – Koramil 08/Karanganyar besertaanggotanya terus menyukseskan program pemerintah pembangunan sejuta jambandiseluruh jajaran Kodim 0716/Demak, Gunameningkatkan kemanunggalan TNI denganrakyat secar terus menerus serta dapatmembantu masyarakat kurang mampu danmeningkatkan taraf kesehatan masyarakat.

Selain itu kegiatan ini merupakan upayameningkatkan kesejahteraan masyarakatmelalui pengajaran pola hidup sehat, diantaranya dengan fasilitas pembangunanjamban dan mendukung program pemerintahtentang kesehatan lingkungan dengan sanitasiyang baik.

Menurut Samsuri satu dari beberapa Warga Desa Cangkring Kecamatan Karanganyarsangat bersyukur menerima bantuan jambanyang diberikan oleh Koramil 08 Karanganyar, bantuan tersebut sangat membantu wargaterutama dirinya. Karena selama ini belum memiliki jamban yang sehat.

Sementara itu,Pejabat sementara Danramil08/Karanganyar Lettu Inf Tulodo berharap, bakti TNI yang dilaksanakan oleh anggota Koramil 08/Karanganyar ini, bisa terus dilakukan terhadap pembangunan di bidang lainnya.

Hal itu demi menjamin peningkatan kesejahteraan, dankesehatan masyarakat, terutama terhadap warga prasejahtera di Kecamatan Karanganyar.

“Pemerintah bersama TNI dan instansi terkait, tentunya siap mendukung program ini. Karena itu bagi warga yang berminat jadi sasaranprogram, bisa mengajukannya ke babinsa atau koramil setempat,” ujarnya.

Hanya saja menurut Tulodo, sukses atau tidaknya gerakan sejuta jamban bukan hanya tanggungjawab pemerintah dan TNI semata, melainkan harus pula ada andil dan dukunganpenuh dari masyarakat.

“Keberhasilan program ini tentunya harusdilandasi kerjasama maksimal lintas sektoral.Artinya, baik pemerintah, TNI, dan masyarakat, harus memberikan andil,” ungkapnya lagi.(J02/ER02)

Top Ad 728x90