Jurnalpantura.Com, Kudus - Puluhan pelajar mulai dari SD/MI sampai SMA/MA dan masyarakat umum berkumpul di Masjid Taqwa Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.
Kehadiran para pelajar tersebut guna mengikuti Lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat pelajar dan umum yang digelar Sukun for Education.
Turut Hadir dalam pembukaan Lomba MTQ, Kamis 24/05/2018, perwakilan PR Sukun dalam hal ini diwakili Helmi Tas’an Wartono beserta pejabat teras PR Sukun Kudus, Komandan Koramil Gebog Kapten Inf A. Bashir yang didampingi Babinsa Desa Gondosari Sertu Witono, serta jajaran Muspika Kecamatan Gebog dan UPT Pendidikan Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus.
Kegiatan lomba MTQ diikuti 178 orang baik dari kalangan pelajar baik dari tingkat SD, MI, SMP, MTS, hingga SMA/SMK dan Aliyah/MA. Termasuk peserta dari masyarakat umum. Dengan rincian 92 peserta wanita dan 86 peserta pria.
Pada kesempatan tersebut Babinsa Desa Gondosari Sertu Witono menegaskan persiapan kegiatan Lomba MTQ di PR Sukun sudah terlihat 100 persen. Jadwal mulai dari tingkatan SD, SMP, SMA dan umum juga sudah disiapkan secara terjadwal dan terinci.
Babinsa Sertu Witono juga menjelaskan kegiatan Lomba MTQ dilaksanakan selama sepekan dari tanggal 24/05/2018 hingga 31/05/2018 bertempat di Masjid Taqwa Dukuh Beru RT 02 RW VI, Desa Gondosari Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus.
"Dari serangkaian lomba MTQ tersebut, nantinya pihak panitia akan menghubungi pembina masing-masing peserta yang mendapatkan juara I II dan III melalui telepon", tegas Sertu Wotono.
”Setelah serangkaian lomba MTQ selesai, maka di hari Kamis (31/05/2018) akan akan pawai Ta’aruf pada pukul 14.00 WIB. Pawai tersebut untuk mengarak piala atau piagam sebelum diserahkan kepada peserta yang mendapatkan juara. Malamnya akan ada penutupan dilanjutkan dengan penyerahan piala tersebut oleh PR SUKUN Group", urainya singkat.
Perlu disampaiakan bahwa bagi para juara selain mendapat piala juga mendapat piagam penghargaan. Nantinya piagam tersebut bisa digunakan untuk mendaftar ke jenjang berikutnya.
Piagam itu bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi instansi tersebut untuk bisa masuk melallui jalur kreatifitas siswa. Selain itu, juga ditandatangani kepala dinas. (J02 /A01)
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Mei 24, 2018
Mei 11, 2018
by Unknown
Mei 11, 2018
Jurnalpantura.Com, Kudus - Hari Bhayangkara yang diperingati setiap tanggal 1 juli, menjadi momen special bagi seluruh anggota kepolisian dan masyarakatdiseluruh Indonesia, berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memeriahkan hari jadi polisi tersebut.
Di usianya yang ke 72 ini institusi kepolisian sudah semakin matang dalam menjaga ketertiban dan keamanan di lingkungan masyarakat.
Untuk itu dalam rangka memeriahkan hari Bhayangkara ke 72, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)Muria Raya bekerjasama dengan kepolisian resor Kudus, Jawa Tengah, bermaksud mengadakan Lomba video pendek, Dengan tema “Polisi Sahabatku”.
Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning melalui Kasubag Humas AKP Sumbar Wijaya menyatakan Dengan lomba ini diharapakan polisi sebagai pengayom masyarakat akan semakin dekat dengan rakyat.
“Tujuan diadakan lomba video pendek dengan tema polisi sahabatku ini agar semakin mempererat hubungan anggota kepolisian dengan masyarakat, khususnya diwilayah kabupaten kudus” jelas Sumbar, kamis 10/05/2018.
Selain itu, IJTI yang seluruh anggotanyamerupakan sekumpulan jurnalis televisi,baik local maupun nasional,yang kesehariannya tidak jauh dari dunia broadcasting dan pertelevisian, ingin berbagi pengalaman dengan masyarakat dalam membuat video pendek, yang sekarang ini sudah menjadi trend khususnya bagi generasi milineal.
“Kami pilih lomba video pendek,dengan durasi hanya 1 menit, karena dengan video pendek tentu di era saat ini siapa saja bisa mengabadikan momen-momen yang sering dijumpai di tengah masyarakat,baik itu berupa peristiwa,feature, dan cerita kemanusian, dengan melibatkan jajaran anggota polres kudus, dalam mengaplikasikannya mereka bisa menggunakan kamera DSLR,Handycam, Smart Phone dan sebagainya” terang Galih Manunggal ketua panitia.
Dalam lomba video dengan tema Polisi Sahabatku ini total hadiah yang diraih mencapai 16 juta rupiah. Selain juara 1,2, 3, juga ada juara favorit. Adapun syarat syaratnya, Galih yang juga Jurnalis Tvone menjelaskan sangat mudah dan peserta baik perseorangan atau kelompok tidak dipungut biaya alias gratis.
SYARAT DAN KETENTUAN LOMBA VIDEO PENDEK POLISI SAHABAT KU:
1. Peserta lomba adalah WNI (warga Negara Indonesia)
2. Video yang dikirim adalah video asli karya sendiri
3. Video yang diikutsertakan harus sesuai dengan tema lomba, yakni “polisi sahabat kita”
4. Tema video pendek (live shot bukan animasi atau slide foto) dengan bermuatan unsur polri
5. Video diambil diwilayah hokum polres kudus
6. Menggunakan atribut polri yang sesuai dan tepat
7. Durasi video maksimal 1 menit
8. Video yang dilombakan harus video yang diproduksi tahun 2017 – 2018
9. Pengambilanvideo dapat dilakukan dengan kamera apa saja, minimum resolusi 800x600 pixel
10. Karya tidak mengandung SARA dan pornogarafi
11. Peserta wajib follow akum media social IJTI Muria Raya, instagram @polreskudus, instagram @ijti_muriaraya, facebook Ijti Muria Raya dan twitter @ijtimuriaraya
12. Upload video diakun instagram dan jangan lupa mantion ke @ijti_muriaraya dan @polreskudus. Beri caption menarik dan sertakan hastag #ijtimuriaraya #lombaijtimuriaraya #juriijti #polreskudus #videopolisisahabatkita #polreskudusijtimuriaraya
13. Karya video pemenangakan menjadi hak milik panitia dan dapatdigunakan untuk publikasi panitia
14. Penggunaan backsound/ ilustrasi music menjadi tanggung jawab peserta
15. Like video terbanyak menjadi salah satu pertimbangan dewan juri
16. Karya video belum pernah dipublikasikan di medsos maupun media lainnya
17. Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
18. Aspek penilaian dewan juri :
1. Kesesuaian dengan tema
2. keunikan dan orisinalitas cerita
3. Keseimbangan estetik (aspek teknis penyutradaraan, editing dan sinematografi visual)
4. koherensi tematik (konsistensi , karakter dan alur cerita)
5. pesan yang disampaikan
"Selanjutnya festival video pendek 'Polisi Sahabatku' akan dilakukan penilaian oleh beberapa juri, diantaranya, Ketua Umum IJTI Pusat Yadi Hendriana, Jurnalis Antv Joko , dan Bidang Humas Polres kudus," tutup Galih. (J02 /A01)
Di usianya yang ke 72 ini institusi kepolisian sudah semakin matang dalam menjaga ketertiban dan keamanan di lingkungan masyarakat.
Untuk itu dalam rangka memeriahkan hari Bhayangkara ke 72, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)Muria Raya bekerjasama dengan kepolisian resor Kudus, Jawa Tengah, bermaksud mengadakan Lomba video pendek, Dengan tema “Polisi Sahabatku”.
Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning melalui Kasubag Humas AKP Sumbar Wijaya menyatakan Dengan lomba ini diharapakan polisi sebagai pengayom masyarakat akan semakin dekat dengan rakyat.
“Tujuan diadakan lomba video pendek dengan tema polisi sahabatku ini agar semakin mempererat hubungan anggota kepolisian dengan masyarakat, khususnya diwilayah kabupaten kudus” jelas Sumbar, kamis 10/05/2018.
Selain itu, IJTI yang seluruh anggotanyamerupakan sekumpulan jurnalis televisi,baik local maupun nasional,yang kesehariannya tidak jauh dari dunia broadcasting dan pertelevisian, ingin berbagi pengalaman dengan masyarakat dalam membuat video pendek, yang sekarang ini sudah menjadi trend khususnya bagi generasi milineal.
“Kami pilih lomba video pendek,dengan durasi hanya 1 menit, karena dengan video pendek tentu di era saat ini siapa saja bisa mengabadikan momen-momen yang sering dijumpai di tengah masyarakat,baik itu berupa peristiwa,feature, dan cerita kemanusian, dengan melibatkan jajaran anggota polres kudus, dalam mengaplikasikannya mereka bisa menggunakan kamera DSLR,Handycam, Smart Phone dan sebagainya” terang Galih Manunggal ketua panitia.
Dalam lomba video dengan tema Polisi Sahabatku ini total hadiah yang diraih mencapai 16 juta rupiah. Selain juara 1,2, 3, juga ada juara favorit. Adapun syarat syaratnya, Galih yang juga Jurnalis Tvone menjelaskan sangat mudah dan peserta baik perseorangan atau kelompok tidak dipungut biaya alias gratis.
SYARAT DAN KETENTUAN LOMBA VIDEO PENDEK POLISI SAHABAT KU:
1. Peserta lomba adalah WNI (warga Negara Indonesia)
2. Video yang dikirim adalah video asli karya sendiri
3. Video yang diikutsertakan harus sesuai dengan tema lomba, yakni “polisi sahabat kita”
4. Tema video pendek (live shot bukan animasi atau slide foto) dengan bermuatan unsur polri
5. Video diambil diwilayah hokum polres kudus
6. Menggunakan atribut polri yang sesuai dan tepat
7. Durasi video maksimal 1 menit
8. Video yang dilombakan harus video yang diproduksi tahun 2017 – 2018
9. Pengambilanvideo dapat dilakukan dengan kamera apa saja, minimum resolusi 800x600 pixel
10. Karya tidak mengandung SARA dan pornogarafi
11. Peserta wajib follow akum media social IJTI Muria Raya, instagram @polreskudus, instagram @ijti_muriaraya, facebook Ijti Muria Raya dan twitter @ijtimuriaraya
12. Upload video diakun instagram dan jangan lupa mantion ke @ijti_muriaraya dan @polreskudus. Beri caption menarik dan sertakan hastag #ijtimuriaraya #lombaijtimuriaraya #juriijti #polreskudus #videopolisisahabatkita #polreskudusijtimuriaraya
13. Karya video pemenangakan menjadi hak milik panitia dan dapatdigunakan untuk publikasi panitia
14. Penggunaan backsound/ ilustrasi music menjadi tanggung jawab peserta
15. Like video terbanyak menjadi salah satu pertimbangan dewan juri
16. Karya video belum pernah dipublikasikan di medsos maupun media lainnya
17. Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
18. Aspek penilaian dewan juri :
1. Kesesuaian dengan tema
2. keunikan dan orisinalitas cerita
3. Keseimbangan estetik (aspek teknis penyutradaraan, editing dan sinematografi visual)
4. koherensi tematik (konsistensi , karakter dan alur cerita)
5. pesan yang disampaikan
"Selanjutnya festival video pendek 'Polisi Sahabatku' akan dilakukan penilaian oleh beberapa juri, diantaranya, Ketua Umum IJTI Pusat Yadi Hendriana, Jurnalis Antv Joko , dan Bidang Humas Polres kudus," tutup Galih. (J02 /A01)
April 23, 2018
by Unknown
April 23, 2018
Jurnalpantura.Com, Kudus - Pamerkan kekompakan antara Orang tua dan anak dengan berjalan lenggak-lenggok mengikuti irama, diatas karpet merah yang digelar mengelilingi ruangan kelas. Itu tadi merupakan salah satu cara TK Birrul Walidain merayakan Hari Kartini tahun 2018.
Diikuti sekitar 180 siswa bersama orang tuanya, puluhan siswa bergembira mengikuti beberapa lomba yang di gelar dilingkungan TK Birrul Walidain, Jln Wachid Hasyim Kudus. Ahad, 22/04/2018.
Kepala TK Birrul Walidain Kurniasih menjelaskan, selama ini kami selalu membuat acara pada setiap Hari Kartini, dan setiap tahun pasti berbeda.
"Untuk tahun ini kami mengadakan lomba yang membutuhkan kerja sama dan kekompakan bagi para orang tua siswa, yaitu lomba APE".
Lomba Alat Peraga Edukasi (APE) diikuti lima orang tua siswa dalam satu kelompoknya, pihak sekolah hanya menyediakan satu kardus Aqua yang kemudian oleh masing-masing kelompok bebas di kreasikan, kata Kurniasih menjelaskan kepada Jurnalpantura.Com.
Masih menurut kepala TK Birrul Walidain, berbagai macam perlombaan yang digelar di hari Kartini ini bertujuan agar sesama orang tua siswa semakin akrab dan kompak, disamping tentunya bisa memberikan manfaat bagi orang tua dan anak, pungkasnya. (J02 /A01)
Diikuti sekitar 180 siswa bersama orang tuanya, puluhan siswa bergembira mengikuti beberapa lomba yang di gelar dilingkungan TK Birrul Walidain, Jln Wachid Hasyim Kudus. Ahad, 22/04/2018.
Kepala TK Birrul Walidain Kurniasih menjelaskan, selama ini kami selalu membuat acara pada setiap Hari Kartini, dan setiap tahun pasti berbeda.
"Untuk tahun ini kami mengadakan lomba yang membutuhkan kerja sama dan kekompakan bagi para orang tua siswa, yaitu lomba APE".
Lomba Alat Peraga Edukasi (APE) diikuti lima orang tua siswa dalam satu kelompoknya, pihak sekolah hanya menyediakan satu kardus Aqua yang kemudian oleh masing-masing kelompok bebas di kreasikan, kata Kurniasih menjelaskan kepada Jurnalpantura.Com.
Masih menurut kepala TK Birrul Walidain, berbagai macam perlombaan yang digelar di hari Kartini ini bertujuan agar sesama orang tua siswa semakin akrab dan kompak, disamping tentunya bisa memberikan manfaat bagi orang tua dan anak, pungkasnya. (J02 /A01)
Maret 16, 2018
by Unknown
Maret 16, 2018
Jurnalpantura.Com. Kendal - Komitmen kebangsaan senantiasa dibina dan dipelihara sehingga tetap terpelihara persatuan dan kesatuan, kebersamaan, saling menghargai, guna tercapainya keserasian, keseimbangan dan keselarasan dalam segala aspek kehidupan.
Dalam meningkatkan pemahaman wawasan kebangsaan, perlu dimaknai nilai-nilai yang terkandung dalam empat consensus dasar negara; Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45 demi memantakan kembali jati diri bangsa dan membangun kesadaran tentang sistem kenegaraan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Kendal Moh. Toha, ST, MSi dalam kegiatan Seminar Wawasan Kebangsaan, Kamis 14/03/2018 di ruang pertemuan Kantor Kecamatan Ngampel, dengan tema ” Memperkokoh Wawasan Kebangsaan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”.
Menurut Sekda, ideology Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. NKRI adalah bentuk negara yang terdiri dari banyak wilayah dan kepualauan yang tersebar dengan keanekaragaman adat, suku, budaya, dan keyakinan yang memiliki tujuan dasar menjadi negara merdeka. Untuk meningkatkan kecintaan kepada NKRI, seluruh warga negara harus membangun rasa saling menghargai dengan segala macam perbedaan latar belakangnya.
Peningkatan pemahaman terhadap kemajemukan social budaya sebagai pencitraan dari budaya bangsa Indonesia yang semakin dewasa merupakan upaya membangun citra diri didasarkan aktualisasi nilai-nilai kebhinekaan yang kita miliki. Untuk itu diharapkan tindakan nyata agar kebhinekaan ini tetap terjaga.
Sementara, Kepala Seksi Bina Ideologi Kesbangpol Anggri Y mengatakan, tujuan kegiatan seminar tersebut, menanamkan cinta tanah air melalui sosialisasi Wawasan Kebangsaan. Ia juga menambahkan kegiatan sosialisasi Wawasan Kebangsaan tersebut diadakan 14 kali dalam setahun di kecamatan dan sekolah – sekolah.
Kegiatan diikuti seluruh staf ASN di Kecamatan Patebon dengan narasumber Sekda Moh. Toha, ST, MT dan sejumlah narasumber antara lain dari Kodim 0715 Kendal. (J02 /A01)
Februari 13, 2018
by Unknown
Februari 13, 2018
Jurnalpantura.Com, Kudus - Sebanyak 1200 anggota Pramuka Siaga dari 65 Sekolah Dasar(SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang tergabung di Kwartir Ranting(Kwaran) Kota Kudus mengikuti Pesta Siaga di Gedung Olah Raga (GOR) Bung Karno yang terletak di Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.
Pesta Siaga ini merupakan salah satu bentuk pendidikan karakter yang dilakukan sehingga terbentuk jiwa serta karakter anak agar mereka menjadi generasi emas pada masa yang akan datang.
Sedangkan materi yang dilombakan dalam pesta Siaga tersebut diantaranya, lomba pengenalan seragam pramuka, lomba toleransi beragama, lomba kemampuan Indra Manusia, lomba baris berbaris, lomba tali dan kompas serta lomba kebersihan.
Camat kota Kudus, Drs Catur Widiyatno, MSi saat menjadi Inspektur Upacara menyampaikan, melalui pesta siaga ini, anggota pramuka Siaga yang masih polos dan suci ini membutuhkan sentuhan yang membangun agar mereka nantinya menjadi manusia yang berkarakter.
"Mari kita ajarkan kepada anak-anak ini suri tauladan yang baik, agar kelak mereka memiliki sikap dan mental yang kuat, menjadi pejuang tangguh," lanjut Catur.
Turut hadir dalam pesta Siaga yang diselenggarakan hari ini, Selasa 13/02/2018 diantaranya, Kepala UPT Pendidikan Kec kota Kak Kusno, Spd, Ketua Kwaran kota Kak Mashudi, serta kakak Pembina dari masing-masing sekolah yang mengikuti pesta Siaga. (J02 /A01)
Pesta Siaga ini merupakan salah satu bentuk pendidikan karakter yang dilakukan sehingga terbentuk jiwa serta karakter anak agar mereka menjadi generasi emas pada masa yang akan datang.
Sedangkan materi yang dilombakan dalam pesta Siaga tersebut diantaranya, lomba pengenalan seragam pramuka, lomba toleransi beragama, lomba kemampuan Indra Manusia, lomba baris berbaris, lomba tali dan kompas serta lomba kebersihan.
Camat kota Kudus, Drs Catur Widiyatno, MSi saat menjadi Inspektur Upacara menyampaikan, melalui pesta siaga ini, anggota pramuka Siaga yang masih polos dan suci ini membutuhkan sentuhan yang membangun agar mereka nantinya menjadi manusia yang berkarakter.
"Mari kita ajarkan kepada anak-anak ini suri tauladan yang baik, agar kelak mereka memiliki sikap dan mental yang kuat, menjadi pejuang tangguh," lanjut Catur.
Turut hadir dalam pesta Siaga yang diselenggarakan hari ini, Selasa 13/02/2018 diantaranya, Kepala UPT Pendidikan Kec kota Kak Kusno, Spd, Ketua Kwaran kota Kak Mashudi, serta kakak Pembina dari masing-masing sekolah yang mengikuti pesta Siaga. (J02 /A01)
November 30, 2017
by Unknown
November 30, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus- Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kabupaten Kudus, Sebagai salah satu universitas negeri Islam yang ada di Kabupaten Kudus, Ingin menunjukkan eksistensinya kepada masyarakat sekitar dengan mengadakan berbagai kegiatan.
Salah satunya yang baru saja diselenggarakan yaitu FESTIVAL DAKWAH dengan penyelenggara Mahasiswa jurusan Dakwah.
Di buatnya festival agar para mahasiswa tidak hanya di dalam kelas tetapi juga harus ada berkreasi, Bagaimana melakukan aksi dakwah di luar kelas.
”Dalam acara festival dakwah ini agar mereka berkreasi jangan hanya di dalam kelas tapi juga harus memiliki talent yang harus di kembangkan”ujar Hani Mutafiah sekretaris acara tersebut.
Walaupun baru diadakan pertama kali tetapi lomba orasi ini mendapatkan antusiasme dari para mahasiswa tampak dari banyaknya penonton di depan laboratorium STAIN KUDUS, Selasa 28/11/17.
Orasi sebagai pidato formal atau komunikasi formal yang di sampaikan kepada khayalak ramai ini di gunakan mahasiswa sebagai eskpresi diri dari tema-tema yang di sediakan oleh panitia.
“Ada banyak tema untuk para peserta lomba, Keadilan, Suara mahasiswa, pendidikan" Kenapa mengambil tema tersebut? Karena itu sedang booming-boomingnya, Lanjut Hani Mutafiah menjelaskan.(J12)
Salah satunya yang baru saja diselenggarakan yaitu FESTIVAL DAKWAH dengan penyelenggara Mahasiswa jurusan Dakwah.
Di buatnya festival agar para mahasiswa tidak hanya di dalam kelas tetapi juga harus ada berkreasi, Bagaimana melakukan aksi dakwah di luar kelas.
”Dalam acara festival dakwah ini agar mereka berkreasi jangan hanya di dalam kelas tapi juga harus memiliki talent yang harus di kembangkan”ujar Hani Mutafiah sekretaris acara tersebut.
Walaupun baru diadakan pertama kali tetapi lomba orasi ini mendapatkan antusiasme dari para mahasiswa tampak dari banyaknya penonton di depan laboratorium STAIN KUDUS, Selasa 28/11/17.
Orasi sebagai pidato formal atau komunikasi formal yang di sampaikan kepada khayalak ramai ini di gunakan mahasiswa sebagai eskpresi diri dari tema-tema yang di sediakan oleh panitia.
“Ada banyak tema untuk para peserta lomba, Keadilan, Suara mahasiswa, pendidikan" Kenapa mengambil tema tersebut? Karena itu sedang booming-boomingnya, Lanjut Hani Mutafiah menjelaskan.(J12)
November 23, 2017
by Unknown
November 23, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Semakin dekatnya pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 yang jatuh besuk pada 27/6/2018 dan bagian dari Tahapan Pemilihan, Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia (Bawaslu RI) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kudus.
Dalam kegiatan tersebut, Bawaslu mengadakan tatap muka bersama stakeholder, Ormas dan Pemilih Pemula dari kalangan Pelajar dan Mahasiswa.Pertemuan Bawaslu dengan Stakeholder Kudus Untuk Sosialisasi Persiapan Pengawasan Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota tahun 2018, Diselengarakan di Hotel Gripta, Kamis 23/11/2017.
Kepala Kesbangpol Kudus Eko Hari Jatmiko dalam pembukaan kegiatan mewakili Bupati Kudus menyampaikan, Alhamdulillah situasi dan kondisi Kudus sangat kondusif kami mengucapkan terima kasih kepada Bawaslu RI, Bawaslu Jateng dan Panwaskab Kudus yang selama ini berkoordinasi dengan baik.
"Panwas Kudus selama ini selalu bersinergi kepada kami melalui Sosialisasi".kepada seluruh jajaran Pemerintah kab kudus mari kita semua ciptakan situasi dan kondisi kudus ini kondusif dan aman, Lanjutnya.
"Panwas Kudus selama ini selalu bersinergi kepada kami melalui Sosialisasi".kepada seluruh jajaran Pemerintah kab kudus mari kita semua ciptakan situasi dan kondisi kudus ini kondusif dan aman, Lanjutnya.
Sosialisasi yang dilakukan langsung oleh Ketua Bawaslu RI, Abhan, bertujuan untuk meningkatkan pengawasan partisipatif masyarakat, guna meminimalisir berbagai potensi pelanggaran dan kecurangan selama tahapan hingga pelaksanaan Pilkada nanti.
Bersama 17 Provinsi lainnya di Indonesia di tahun 2018 nanti akan menggelar Pilkada serentak pada tanggal 27 Juni 2018 bersamaan dengan tahapan Pemilu Nasional 2019, yang pertama kali serentak dilaksanakan.
Ketua Bawaslu RI, Abhan dalam paparannya mengatakan, Pemilu yang akan dilaksanakan nanti bukanlah hajatan penyelenggara saja tetapi merupakan hajatan seluruh masyarakat Indonesia.Dalam konteks inilah yang perlu adanya partisipatif masyarakat di dalamnya.
"Partisipatif yang di dorong KPU dan Bawaslu memiliki perbedaan. Kalau KPU lebih kepada partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya, sedangkan Bawaslu mendorong partisipasi masyarakat dalam pengawasan dari tahapan hingga hari pemungutan nanti sesuai amanat undang-undang," ujarnya.
Abhan juga mengatakan berdasarkan UU pengawas pemilu di tingkat kabupaten kota merupakan lembaga ad hoc (panwaslu) dengan jumlah anggota tiga orang.
Tetapi, UU yang baru (UU 7/2017) mengatur, pengawas pemilu di tingkat kabupaten kota adalah lembaga permanen (Bawaslu) dengan jumlah anggota tiga atau lima orang.
Undang-Undang menyebutkan, Masa transisi untuk perubahan kelembagaan dan pengisian jabatan paling lambat adalah satu tahun. Artinya, Pada 16 Agustus 2018 sudah terbentuk Bawaslu kabupaten kota dengan jumlah yang menyesuaikan regulasi.
"Jadi, waktu kami masih sampai 16 Agustus 2018," demikian jelasnya.
Abhan menambahkan, ketentuan money politic yang mengatakan bahwa si pemberi dan si penerima akan sama-sama di hukum, itu yang menjadi kelemahan, karena masyarakat akan takut untuk melapor. Sehingga yang betul-betul kita lakukan adalah masiv pencegahan.
"Yang bisa kita proses kecuali OTT (minjam istilah KPK-red). Jadi dua-dua yang melakukan transaksi, itu yang akan menjadi temuan. Karena kalau mengandalkan laporan memang agak susah. Tapi kami akan lakukan terobosan berupa whistleblower atau perlindungan bagi orang yang betul-betul tulus melaporkan berbagai pelanggaran terkait money politic," tandasnya.
Sementara itu Ketua Bawaslu Jateng, pak fajar subhi dalam kesempatan yang sama mengatakan, kewenangan Bawaslu melalui undang-undang Pemilu nomor 7 tahun 2017 bisa mendiskualifikasi pasangan calon serta partai politik untuk calon anggota legislatifnya.
"Persoalan penegakan hukum kami juga telah sampaikan Kapolda Jateng, karena ancaman pelanggaran Pemilu hukumannya dibawah lima tahun. Ada isilah in absensia yang bisa kita gunakan untuk memoroses hingga mengadili suatu pelanggaran tanpa harus dihadiri oleh tersangka," tutupnya.(J02)
November 19, 2017
by Unknown
November 19, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah ke-105 M, Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Kudus menyelenggaran acara Dialog Politik dan Kebangsaan di Aula STIKES Muhammadiyah Kudus, Ahad 19/11/2017.
Acara Dialog Politik dan Kebangsaan yang menghadirkan Narasumber dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah juga menghadirkan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati untuk menyampaikan visi misi dihadapan warga Muhammadiyah Kabupaten Kudus.
Empat balon yang memaparkan visi misi yaitu M. Tamzil, Hadi Sucipto, Masan, dan Sri Hartini.
Ketua PD Muhammadiya Kudus Achmad Hilal Majdi menuturkan, acara yang dilaksanakan bertujuan untuk mencari pemimpim Kudus yang visioner dan religius lewat ajang Pilkada 2018 mendatang.
"Ini adalah wujud peran serta Muhammadiyah dalam menggiring jalannya Pilkada dan menemtukan sosok pemimpin yang ideal" tuturnya.
Dikatakannya, pemimping yang visioner yaitu harus mempunyai wawasan luas dan aksi nyata. Aksi tersebut harus sinkron seuai pikiran dan hatinya.
Ia melanjutkan, selain visioner juga harus teligius. Religius bukan hanya tercermin dari penampilan, melainkan sifat yang ditunjukkan.
"Religius artinya memimpin namun tetap berpedoman dengan kaidah nilai agama yang dianutnya" imbuhnya.
Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jateng Khafid Sirotudin juga mengatakan hal yang sama, pemimpin yang visioner dan religius menurutnya juga harus sehat. Sehat dalam jiwa, raga, sosial dan spiritualnya.
"Pemimpin harus mempunyai arah yang jelas dalam program yang dijalankan. Pemimpin tidak mesti berasal dari partai, jika ingin nyalon yang penting niat dan jujur"
Ia juga berharap, bagi kader-kader Muhammadiyah saat memilih hendaknya lebih cerdas. Sehingga benar-benar menghasilkan pemimpin yang amanat, tidak lupa masyarakat, serta menepati janji.(J11)
Acara Dialog Politik dan Kebangsaan yang menghadirkan Narasumber dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah juga menghadirkan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati untuk menyampaikan visi misi dihadapan warga Muhammadiyah Kabupaten Kudus.
Empat balon yang memaparkan visi misi yaitu M. Tamzil, Hadi Sucipto, Masan, dan Sri Hartini.
Ketua PD Muhammadiya Kudus Achmad Hilal Majdi menuturkan, acara yang dilaksanakan bertujuan untuk mencari pemimpim Kudus yang visioner dan religius lewat ajang Pilkada 2018 mendatang.
"Ini adalah wujud peran serta Muhammadiyah dalam menggiring jalannya Pilkada dan menemtukan sosok pemimpin yang ideal" tuturnya.
Dikatakannya, pemimping yang visioner yaitu harus mempunyai wawasan luas dan aksi nyata. Aksi tersebut harus sinkron seuai pikiran dan hatinya.
Ia melanjutkan, selain visioner juga harus teligius. Religius bukan hanya tercermin dari penampilan, melainkan sifat yang ditunjukkan.
"Religius artinya memimpin namun tetap berpedoman dengan kaidah nilai agama yang dianutnya" imbuhnya.
Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jateng Khafid Sirotudin juga mengatakan hal yang sama, pemimpin yang visioner dan religius menurutnya juga harus sehat. Sehat dalam jiwa, raga, sosial dan spiritualnya.
"Pemimpin harus mempunyai arah yang jelas dalam program yang dijalankan. Pemimpin tidak mesti berasal dari partai, jika ingin nyalon yang penting niat dan jujur"
Ia juga berharap, bagi kader-kader Muhammadiyah saat memilih hendaknya lebih cerdas. Sehingga benar-benar menghasilkan pemimpin yang amanat, tidak lupa masyarakat, serta menepati janji.(J11)
November 18, 2017
by Unknown
November 18, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Tidak bisa dipungkiri sukses tidaknya suatu acara juga dipengaruhi oleh bagaimana mengemas kegiatan tersebut agar diterima oleh masyarakat, Dalam hal ini adalah promosi kepada masyarakat agar mengetahui apa dan bagaimana acara tersebut.Begitupun juga dengan Pesta Demokrasi lima tahunan yang akan datang.
Untuk iitulah Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus, Bertempat di lantai dua RM Garuda Jl Jenderal Sudirman mengadakan acara Focus Group Discussion (FGD) bersama rekan media guna membahas peran serta media Kudus, Senin mengambil tema “Optimalisasi peran media massa sebagai alat komunikasi efektif dalam penyampaian informasi Pilgub Jateng dan Pilbup 2018, Menuju pilkada berkualitas dan berintegritas”.
Acara FGD ini mendatangkan 3 narasumber, diantaranya Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah Sonakha Yudha Laksana, Muhammad Olis Wakil Sekretaris Persatuan Wartawan Indoensia (PWI) Kudus dan Ketua KPU Kudus M. Khanafi dengan moderator Eni Misdayani anggota KPU Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat.
Ketua KPU Kabupaten Kudus, Moh Khanafi mengatakan, FGD bersama awak media diadakan dalam rangka menyukseskan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Kudus dan Pilgub pada bulan juni tahun 2018 nanti. “Diharapkan pilkada nantinya bisa berjalan sukses, lebih berkualitas dan berintegritas,” Ujarnya dihadapan sejumlah insan pers dari cetak, Online maupun elektronik.Sabtu 18/11/22017.
“Pers sangat berpengaruh dalam pembentukan opini, dan KPU sendiri membutuhkan adanya pembentukan opini ditengah masyarakat, dalam mencapai target kesuksesan Pemilu, terutama tingkat kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya,” kata Khanafi. (J02)
November 16, 2017
by Unknown
November 16, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Siswa SMK Muhammadiyah Kudus berhasil mengukir prestasi di ajang Olimpiade Ahmad Dahlan (OlimpiAD) Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Bandar Lampung akhir Oktober 2017 lalu.
Adalah Muh Syaiful, siswa kelas XII jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) atau Otomotif SMK Muhammadiyah Kudus berhasil menyabet medali emas di ajang yang digelar setiap dua tahun sekali.Sebagai penyelenggara Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah.
Muh Syaiful kepada media online Jurnal Pantura mengatakan, ada lima bidang yang dilombakan di ajang Olimpiade Ahmad Dahlan. Yaitu merangkai mesin, transmisi, rem, tune up dan elektrikal.
"Masing-masing bidang harus diselesaikan tidak boleh lebih dari 60 menit (1 jam)," kata Syaiful yang merupakan warga Desa Garung Lor RT 04 RW 02, Kaliwungu, Kudus, Kamis 16/11/2017.
Dikatakan Syaiful, ia harus bersaing dengan 23 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.
"Kebetulan saya mewakili Propinsi Jawa Tengah bersama dengan dua siswa dari SMK Muhammadiyah Sukoharjo dan Blora," ujar siswa kelahiran 23 Juni 2000 itu.
"Alhamdulillah kontingen Jawa Tengah berhasil menyabet medali emas," ungkapnya.
Agus Sulistiyono, kepala jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMK Muhammadiyah Kudus menyebutkan bahwa ajang Olimpiade Ahmad Dahlan diselenggarakan pada 26-29 Oktober lalu.
Dikatakannya, siswa SMK Muhammadiyah kebetulan mewakili kontingen Jawa Tengah bersama siswa dari Sukoharjo dan Blora.
"Siswa SMK Muhammadiyah Kudus dalam seleksi tingkat Jawa Tengah duduk diperingkat ketiga. Namun Alhamdulillah di Bandar Lampung berhasil meraih juara 1 dan mendapatkan medali emas," ungkapnya.
Ajang ini sendiri, kata Agus, bukan sekedar untuk mengejar prestasi semata. Namun, justru paling penting untuk ajang silaturrahim.
"Ajang ini juga sekaligua untuk mencari bibit-bibit unggul dari berbagai daerah," sebutnya.
Yang menarik adalah, lanjut Agus, tim penguji atau juri berasal dari praktisi otomotif seperti dari Daihatsu, Toyoto, dan Mitsubishi.
"Ini menjadi pengalaman yang berharga sekaligus untuk mengasah ketrampilan para siswa didiknya," tukasnya. (J10)
Adalah Muh Syaiful, siswa kelas XII jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) atau Otomotif SMK Muhammadiyah Kudus berhasil menyabet medali emas di ajang yang digelar setiap dua tahun sekali.Sebagai penyelenggara Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah.
Muh Syaiful kepada media online Jurnal Pantura mengatakan, ada lima bidang yang dilombakan di ajang Olimpiade Ahmad Dahlan. Yaitu merangkai mesin, transmisi, rem, tune up dan elektrikal.
"Masing-masing bidang harus diselesaikan tidak boleh lebih dari 60 menit (1 jam)," kata Syaiful yang merupakan warga Desa Garung Lor RT 04 RW 02, Kaliwungu, Kudus, Kamis 16/11/2017.
Dikatakan Syaiful, ia harus bersaing dengan 23 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.
"Kebetulan saya mewakili Propinsi Jawa Tengah bersama dengan dua siswa dari SMK Muhammadiyah Sukoharjo dan Blora," ujar siswa kelahiran 23 Juni 2000 itu.
"Alhamdulillah kontingen Jawa Tengah berhasil menyabet medali emas," ungkapnya.
Agus Sulistiyono, kepala jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMK Muhammadiyah Kudus menyebutkan bahwa ajang Olimpiade Ahmad Dahlan diselenggarakan pada 26-29 Oktober lalu.
Dikatakannya, siswa SMK Muhammadiyah kebetulan mewakili kontingen Jawa Tengah bersama siswa dari Sukoharjo dan Blora.
"Siswa SMK Muhammadiyah Kudus dalam seleksi tingkat Jawa Tengah duduk diperingkat ketiga. Namun Alhamdulillah di Bandar Lampung berhasil meraih juara 1 dan mendapatkan medali emas," ungkapnya.
Ajang ini sendiri, kata Agus, bukan sekedar untuk mengejar prestasi semata. Namun, justru paling penting untuk ajang silaturrahim.
"Ajang ini juga sekaligua untuk mencari bibit-bibit unggul dari berbagai daerah," sebutnya.
Yang menarik adalah, lanjut Agus, tim penguji atau juri berasal dari praktisi otomotif seperti dari Daihatsu, Toyoto, dan Mitsubishi.
"Ini menjadi pengalaman yang berharga sekaligus untuk mengasah ketrampilan para siswa didiknya," tukasnya. (J10)
November 15, 2017
by Unknown
November 15, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus-Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus menyebutkan ada sekitar 40 persen sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) negeri di kabupaten Kudus, yang terpaksa harus digabung atau regrouping.
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus, Kasmudi, beberapa waktu lalu.
Meski demikian, pihaknya masih belum memperoleh data persis soal sekolah yang akan digabung.Karena saat ini data pastinya masih berada di unit pelayan terpadu (UPT) pendidikan di masing-masing kecamatan.
"Kami belum memperoleh data dari UPT, karena kemungkinan masih proses pendataan sekaligus validasi di lapangan," ujar Kasmudi.
"Proses regrouping dilakukan secara bertahap. Bisa mulai dari kelas 1 saja, atau bisa langsung seluruhnya. Tegantung kesiapan sekolah," ungkapnya.
Kasmudi menjelaskan, pelaksanaan regrouping mengacu pada Permendikbud nomor 17 tahun 2017. Dengan ketentuan setiap rombongan belajar (rombel) disekolah-sekolah perkelasnya minimal 20 siswa dan maksimal 28 siswa.
Disebutkan Kasmudi, ada beberapa pertimbangan kenapa sekolah terpaksa dilakukan regrouping. Pertama, akses masyarakat ke sekolah yang sulit sehingga diharapkan proses regrouping akan mempermudah.
Kemudian yang kedua, yaitu pertimbangan satu desa satu sekolah negeri. Dengan hanya satu SD negeri diharapkan bisa menjadi unggulan.
"Ketiga, untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sekaligus juga lebih efektif dan efisien dengan adanya regrouping," tukasnya.
Kasmudi mengakui, bahwa perkembangan sekolah swasta di Kudus cukup bagus. Namun, bukan berarti sekolah negeri kalah bersaing dengan swasta.
"Saya kira persoalannya bukan itu. Soal pilihan sekolah, masyarakat memiliki kebabasan untuk milih sekolah dimana," ungkapnya.
Kasmudi menambahkan agar tidak menimbulkan gejolak pihaknya terus mensosialisasikan Permendikbud kesekolah-sekolah yang dibawah naungan Disdikpora. Total sekolah SD dikabupaten Kudus ada sebanyak 450 sedangkan SMP sebanyak 27.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Kudus, Setia Budi Wibowo melihat sekolah negeri di Kudus banyak yang kesulitan mendapatkan siswa dan kalah bersaing dengan swasta. Hal itu disebabkan oleh pengelolaan sekolah yang tidak efisien dan efektif.
“Sekarang sekolah harus pinter-pinter menyusun strategi untuk menggaet siswa. Termasuk harus siap jemput bola,” ujarnya.
Bowo menyebutkan, persaingan di dunia pendidikan menjadi sebuah keniscayaan di tengah kompetisi global. Karenanya, siapa pun yang tidak siap, maka harus siap bila tergilas.
"Sekarang ini sekolah swasta justru banyak dilirik warga masyarakat karena dianggap memiliki keunggulan lebih bila dibandingkan yang negeri. Salah satunya misal ada progam tahfidh, ini jadi pembeda dan ini yang tak dimiliki sekolah negeri," pungkas politisi PKS itu. (J10).
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus, Kasmudi, beberapa waktu lalu.
Meski demikian, pihaknya masih belum memperoleh data persis soal sekolah yang akan digabung.Karena saat ini data pastinya masih berada di unit pelayan terpadu (UPT) pendidikan di masing-masing kecamatan.
"Kami belum memperoleh data dari UPT, karena kemungkinan masih proses pendataan sekaligus validasi di lapangan," ujar Kasmudi.
"Proses regrouping dilakukan secara bertahap. Bisa mulai dari kelas 1 saja, atau bisa langsung seluruhnya. Tegantung kesiapan sekolah," ungkapnya.
Kasmudi menjelaskan, pelaksanaan regrouping mengacu pada Permendikbud nomor 17 tahun 2017. Dengan ketentuan setiap rombongan belajar (rombel) disekolah-sekolah perkelasnya minimal 20 siswa dan maksimal 28 siswa.
Disebutkan Kasmudi, ada beberapa pertimbangan kenapa sekolah terpaksa dilakukan regrouping. Pertama, akses masyarakat ke sekolah yang sulit sehingga diharapkan proses regrouping akan mempermudah.
Kemudian yang kedua, yaitu pertimbangan satu desa satu sekolah negeri. Dengan hanya satu SD negeri diharapkan bisa menjadi unggulan.
"Ketiga, untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sekaligus juga lebih efektif dan efisien dengan adanya regrouping," tukasnya.
Kasmudi mengakui, bahwa perkembangan sekolah swasta di Kudus cukup bagus. Namun, bukan berarti sekolah negeri kalah bersaing dengan swasta.
"Saya kira persoalannya bukan itu. Soal pilihan sekolah, masyarakat memiliki kebabasan untuk milih sekolah dimana," ungkapnya.
Kasmudi menambahkan agar tidak menimbulkan gejolak pihaknya terus mensosialisasikan Permendikbud kesekolah-sekolah yang dibawah naungan Disdikpora. Total sekolah SD dikabupaten Kudus ada sebanyak 450 sedangkan SMP sebanyak 27.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Kudus, Setia Budi Wibowo melihat sekolah negeri di Kudus banyak yang kesulitan mendapatkan siswa dan kalah bersaing dengan swasta. Hal itu disebabkan oleh pengelolaan sekolah yang tidak efisien dan efektif.
“Sekarang sekolah harus pinter-pinter menyusun strategi untuk menggaet siswa. Termasuk harus siap jemput bola,” ujarnya.
Bowo menyebutkan, persaingan di dunia pendidikan menjadi sebuah keniscayaan di tengah kompetisi global. Karenanya, siapa pun yang tidak siap, maka harus siap bila tergilas.
"Sekarang ini sekolah swasta justru banyak dilirik warga masyarakat karena dianggap memiliki keunggulan lebih bila dibandingkan yang negeri. Salah satunya misal ada progam tahfidh, ini jadi pembeda dan ini yang tak dimiliki sekolah negeri," pungkas politisi PKS itu. (J10).
November 12, 2017
by Unknown
November 12, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Salah satu pendidikan karakter untuk anak usia dini adalah dengan membekali anak-anak dengan pendidikan Agama yang baik.
Menyadari hal tersebut, Bertempat di Komplek Madrasah Ibtidaiyyah Negeri (MIN) Kudus Desa Prambatan Kidul Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus, Badan Koordinasi Taman Pendidikan Alqur'an ( Badko TPQ ) mengadakan Pembukaan Festival Anak Sholih Indonesia (FASI) tingkat Kabupaten Kudus tahun 2017.
Acara Festival Anak Sholih yang di Adakan setiap tahun ini diikuti oleh seluruh TPQ yang ada di Kabupaten Kudus.
Turut hadir dalam pembukaan Festival Anak Sholih diantaranya, Kabag Kesra Setda Kudus Drs. Mundir, M.M, Kakamenag Kab Kudus H Noor Badi, MM dan para guru pendamping TPQ se-Kabupaten Kudus.
H. Noor Badi, M.M Kakankemenag dalam sambutannya, Pemerintah saat ini sangat konsen dengan pendidikan Agama karena itu semakin gencarnya menggerakkan pendidikan karakter diantaranya TKQ TPQ TQA.
" Dari kecil di didik memegang konsep dasar Alquran, Untuk mewujudkan Kudus yang Gusjigang "Lanjutnya.
Sedangkan sambutan dari Bupati Kudus H Musthofa yang dibacakan oleh Drs. H Mundir, M.M. Menyampaikan, Dalam perlombaan ini skala ukurnya tidak ada tergantung dewan juri. Di sini dituntut profesinal dewan juri.
Salah satu pendidikan karakter bagi anak usia dini melalui pendidikan Alqur'an sudah kita akui bersama setelah menjadi pejabat atau dewasa akan menjadi sosok yang amanah serta tetap mempunyai dasar-dasar agama yang kuat. (J02)
Menyadari hal tersebut, Bertempat di Komplek Madrasah Ibtidaiyyah Negeri (MIN) Kudus Desa Prambatan Kidul Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus, Badan Koordinasi Taman Pendidikan Alqur'an ( Badko TPQ ) mengadakan Pembukaan Festival Anak Sholih Indonesia (FASI) tingkat Kabupaten Kudus tahun 2017.
Acara Festival Anak Sholih yang di Adakan setiap tahun ini diikuti oleh seluruh TPQ yang ada di Kabupaten Kudus.
Turut hadir dalam pembukaan Festival Anak Sholih diantaranya, Kabag Kesra Setda Kudus Drs. Mundir, M.M, Kakamenag Kab Kudus H Noor Badi, MM dan para guru pendamping TPQ se-Kabupaten Kudus.
H. Noor Badi, M.M Kakankemenag dalam sambutannya, Pemerintah saat ini sangat konsen dengan pendidikan Agama karena itu semakin gencarnya menggerakkan pendidikan karakter diantaranya TKQ TPQ TQA.
" Dari kecil di didik memegang konsep dasar Alquran, Untuk mewujudkan Kudus yang Gusjigang "Lanjutnya.
Sedangkan sambutan dari Bupati Kudus H Musthofa yang dibacakan oleh Drs. H Mundir, M.M. Menyampaikan, Dalam perlombaan ini skala ukurnya tidak ada tergantung dewan juri. Di sini dituntut profesinal dewan juri.
Salah satu pendidikan karakter bagi anak usia dini melalui pendidikan Alqur'an sudah kita akui bersama setelah menjadi pejabat atau dewasa akan menjadi sosok yang amanah serta tetap mempunyai dasar-dasar agama yang kuat. (J02)
November 11, 2017
by Unknown
November 11, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Bertempat di Gedung PGRI Kaliwugu Ds. Garung Lor Kec. Kaliwungu Kab.Kudus PGRI kecamatan Kaliwungu mengadakan pembukaan pelaksanaan worshop karya tulis ilmiah guru dalam rangka HUT PGRI yang ke-72 dan HGN tahun 2017,Sabtu 11/11/2017 yang di selenggarakan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia cabang Kaliwungu dengan tema "Membangkitkan kesadaran kolektif guru dalam meningkatkan kwalitas pendidikan".
Drs. Sularto S Pd I (ka UPT Pendidikan Kec.Kaliwungu) dalam sambutanya saat pembukaan acara Workshop menyatakan, Diklat ini di ikuti oleh guru SD, SMP dan SLTA se-kab.kudus kurang lebih 350 peserta mudah mudahan nantinya dapat diikuti sampai selesai dan mendapatkan manfaat yang berguna.
Sedangkan Drs.Joko Susilo (Kadin Pendidikan dan olahraga Kab.Kudus) dalam sambutannya di tempat yang sama, Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan sehingga kita dapat hadir dalam acara ini.
Dalam hari guru nasional ini kita dituntut untuk meningkatkan kwalitas pendidikan serta kwantitas sumber daya manusia yang siap pakai.
" Pendidikan berhasil adalah apabila peningkatan kwalitas sumber daya manusia diataranya dengan mengadakan diklat penulisan karya ilmiah ini akan menjadi motifasi lagi jangan dianggap sebagai sarana seremonial belaka tetapi harus benar benar di terapkan"Jelasnya.
Sebagai pegawai pemerintah dan tenaga pendidik diharapkan dapat melaksanakan pelayanan peserta didik secara jujur, tepat berdaya guna dan santun serta dalam kegiatan ini dapat menjadikan momentum untuk saling tukar pikiran dan harus siap menghadapi segala model perubahan pendidikan yang sudah berubah empat kali, tambahnya lagi.(J02)
Drs. Sularto S Pd I (ka UPT Pendidikan Kec.Kaliwungu) dalam sambutanya saat pembukaan acara Workshop menyatakan, Diklat ini di ikuti oleh guru SD, SMP dan SLTA se-kab.kudus kurang lebih 350 peserta mudah mudahan nantinya dapat diikuti sampai selesai dan mendapatkan manfaat yang berguna.
Sedangkan Drs.Joko Susilo (Kadin Pendidikan dan olahraga Kab.Kudus) dalam sambutannya di tempat yang sama, Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan sehingga kita dapat hadir dalam acara ini.
Dalam hari guru nasional ini kita dituntut untuk meningkatkan kwalitas pendidikan serta kwantitas sumber daya manusia yang siap pakai.
" Pendidikan berhasil adalah apabila peningkatan kwalitas sumber daya manusia diataranya dengan mengadakan diklat penulisan karya ilmiah ini akan menjadi motifasi lagi jangan dianggap sebagai sarana seremonial belaka tetapi harus benar benar di terapkan"Jelasnya.
Sebagai pegawai pemerintah dan tenaga pendidik diharapkan dapat melaksanakan pelayanan peserta didik secara jujur, tepat berdaya guna dan santun serta dalam kegiatan ini dapat menjadikan momentum untuk saling tukar pikiran dan harus siap menghadapi segala model perubahan pendidikan yang sudah berubah empat kali, tambahnya lagi.(J02)
by Unknown
November 11, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Kodim 0722/Kudus dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan mengadakan acara Nonton Bersama "Merah Putih Memanggilmu" Di Studio 2 New Star Cineplek Matahari yang berada di Ploso, Kecamatan Jati.
Acara Nobar dengan Film yang menceritakan semangat tidak pantang menyerah anggota TNI saat membebaskan para sandera dari tangan gerombolan pemberontak.
Para Pelajar SD, MTS, TBS dan Mahasiswa dari UMK dan STAIN Kudus dengan antusias tinggi mengikuti jalan cerita dalam film Merah Putih Memanggilmu.
Menurut Kapten Inf Heru Cahyono, Pasiter Kodim 0722 dalam keterangannya mengatakan Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuh kembangkan panggilan jiwa membela NKRI dalam diri pemuda Pelajar dan Mahasiswa . sabtu, 11/11/2017.
" Merupakan generasi muda yg berintelektual harus punya pemikiran bahwa bela negara adalah tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia"lanjut Pasiter Kodim tersebut.
Sedangkan Rahma salah satu murid kelas 6 SD Ploso yang bersama teman-teman ikut menonton film ini, mengatakan " Filmnya keren dan tadi sempat ngeri waktu ada adegan jari TNI yang terluka"
Hal serupa juga di katakan oleh Sukma, Pelajar putri dari MTS N 1 Kudus yang saat menonton tadi sempat menangis."Haru betapa berat perjuangan para TNI "katanya.
Di harapkan dengan acara Nobar kali ini bisa membangkitkan jiwa bela negara pada diri pemuda. Sehingga bisa membuat kejayaan bangsa dan keutuhan NKRI, Tambah kapten Heru Cahyono, Perwira Seksi Teritorialnya.(J02)
Acara Nobar dengan Film yang menceritakan semangat tidak pantang menyerah anggota TNI saat membebaskan para sandera dari tangan gerombolan pemberontak.
Para Pelajar SD, MTS, TBS dan Mahasiswa dari UMK dan STAIN Kudus dengan antusias tinggi mengikuti jalan cerita dalam film Merah Putih Memanggilmu.
Menurut Kapten Inf Heru Cahyono, Pasiter Kodim 0722 dalam keterangannya mengatakan Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuh kembangkan panggilan jiwa membela NKRI dalam diri pemuda Pelajar dan Mahasiswa . sabtu, 11/11/2017.
" Merupakan generasi muda yg berintelektual harus punya pemikiran bahwa bela negara adalah tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia"lanjut Pasiter Kodim tersebut.
Sedangkan Rahma salah satu murid kelas 6 SD Ploso yang bersama teman-teman ikut menonton film ini, mengatakan " Filmnya keren dan tadi sempat ngeri waktu ada adegan jari TNI yang terluka"
Hal serupa juga di katakan oleh Sukma, Pelajar putri dari MTS N 1 Kudus yang saat menonton tadi sempat menangis."Haru betapa berat perjuangan para TNI "katanya.
Di harapkan dengan acara Nobar kali ini bisa membangkitkan jiwa bela negara pada diri pemuda. Sehingga bisa membuat kejayaan bangsa dan keutuhan NKRI, Tambah kapten Heru Cahyono, Perwira Seksi Teritorialnya.(J02)
November 10, 2017
by Unknown
November 10, 2017
JURNALPANTURA.COM, Blora - Bertempat di halaman Kantor Bupati Blora, Upacara Hari Pahlawan 10 November 2017 tingkat Kabupaten Blora dilaksanakan. Demikian Inspektur Upacara Bupati Blora Djoko Nugroho dan sebagai komandan Upacara Kapten Cbh M. Rivai dari Kodim 0721 Blora, Jumat (10/11/2017)
“Saya mengapresiasi, upacara ini sangat sempurna dilaksanakan. Apalagi membaca sambutan dari Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa yang memiliki nilai dan makna mendalam pada peringatan Hari Pahlawan Tahun 2017,” ucap Bupati Blora Djoko Nugroho.
Bupati juga menyampaikan bahwa Melawan dan Menolak Berita Hoax itu “Pahlawan”
“Pada kesempatan ini saya tulis, Melawan dan Menolak Berita Hoax itu Pahlawan,” tegas bupati.
Berikut sambutan Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa :
Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Salam Sejahtera bagi kita semua,
Saudara – saudara sebangsa setanah air , patriot Bangsa yang budiman,
Alhamdulillah, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT Tuhan yang Maha Kuasa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, yang memberi kita kesehatan jasmani-rohani, kekuatan mental spiritual serta kesadaran untuk terus mengemban semangat juang yang tegak berdiri diatas cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 1945.
Setiap tanggal 10 November, kita seluruh Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, mengenang para pendahulu kita, pahlawan dan perintis kemerdekaan, para pendiri republik Indonesia, mereka dengan segenap pemikiran, tindakan dan gerakan perjuangan kolektif yang mereka lakukan, sehingga saat ini kita semua bisa menikmati hidup di bumi Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, bangsa yang sederajat dengan bangsa lain, bangsa yang menyadari tugas sejarahnya untuk menjadikan kemerdekaan sebagai jembatan emas bagi terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Para Pendiri bangsa mengabarkan pesan penting kepada kita. Pesan itu adalah bahwa setelah kemerdekaan diraih, maka tahapan selanjutnya - kita harus bersatu terlebih dahulu untuk bisa memasuki tahapan bernegara selanjutnya - yakni berdaulat, adil dan makmur. Oleh karena pesan fundamental itulah maka peringatan Hari Pahlawan 10 November tahun 2017 ini kita mengambil tema “Perkokoh Persatuan Membangun Negeri”.
Apabila kita mampu bersatu sebagai satu bangsa maka kita dapat maju bersama-sama dan mendistribusikan berkah kemerdekaan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Saudara – saudara sebangsa setanah air , patriot bangsa yang budiman,
Hari Pahlawan yang kita peringati saat ini didasarkan pada peristiwa pertempuran terhebat dalam riwayat sejarah dekolonisasi dunia, yakni peristiwa “Pertempuran 10 November 1945” di Surabaya. Sebuah peristiwa yang memperlihatkan kepada dunia internasional, betapa segenap Rakyat Indonesia dari berbagai ras, suku, agama, budaya dan berbagai bentuk partikularisme golongan - bersama-sama melebur menjadi satu untuk berikrar, bergerak dan menyerahkan hidupnya, jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia!
Saudara - saudari sebangsa setanah air, patriot bangsa yang budiman,
Bung Karno pernah menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Kalimat singkat dari Bung Karno ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi kita semua. Tanpa pengorbanan dan perjuangan para pahlawan dan perintis kemerdekaan, tidak akan ada gagasan besar untuk mendirikan sebuah negara yang bernama Republik Indonesia.
Dalam setiap rangkaian perjuangan kepahlawanan yang membentuk keIndonesiaan kita, kita dapat mengambil pelajaran dari apinya perjuangan para pendahulu kita, api yang menjadi suasana kebatinan dan pelajaran moral bagi kita semua yakni, api yang membentuk terbangunnya Persatuan Indonesia yang terdiri atas dua hal yakni adanya harapan dan pengorbanan!
Harapan dan pengorbanan itulah yang membentuk persatuan dan melahirkan Indonesia, merawat eksistensinya dalam panggung sejarah bangsa-bangsa, dan harus terus dinyalakan agar Republik Indonesia tetap berdiri tegak , menjadi besar dan terus memberi sumbangan penting sebagai bagian dari persaudaraan ummat manusia di dunia.
Saudara - saudari sebangsa setanah air, patriot bangsa yang budiman,
Berbagai sejarah kepahlawanan, mengisahkan tentang menyala-nyalanya api “Harapan” yang menjadi pemantik dari berbagai tindakan-tindakan heroik yang mengagumkan. Begitu pula Republik Indonesia tercinta ini ketika diproklamirkan, dengan keberanian, tekad, pemikiran orisinil tentang kehidupan bernegara yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945 dan pengorbanan yang besar, maka berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaaannya.
Apakah yang menjadi pemantik sehingga pendahulu kita berani memproklamirkan kemerdekaan saat itu? Keberanian itu dapat digerakkan oleh sebuah modal tak ternilai dan tidak kasat mata, modal itu adalah adanya sebuah harapan. Sebuah harapan yang menimbulkan optimisme dalam hidup, sebuah harapan yang membuka segenap potensi, kita punya vitalitas dan daya hidup kemanusiaan untuk membuka terang kehidupan di masa depan, sebuah harapan bahwa dengan mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, maka kita dapat membangun sebuah kehidupan bernegara, sebuah rumah tangga politik kebangsaan dan kenegaraan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Saat ini harapan akan masa depan yang lebih baik tersebut telah ditambatkan oleh Pemerintahan Presiden Bapak Joko Widodo dan Wakil Presiden Bapak H.M. Jusuf Kalla melalui sebuah visi transformatif yang mengarahkan dan menghimpun gerak seluruh elemen Republik Indonesia yakni: “Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong - royong.”
Dalam kerangka mewujudkan visi tersebut telah dirumuskan sembilan agenda prioritas pemerintahan ke depan yang disebut NAWA CITA. Kesembilan agenda prioritas itu bisa dikategorisasikan ke dalam tiga ranah; ranah mental-kultural, ranah material (ekonomi) dan ranah politik. Pada ketiga ranah tersebut, Pemerintah saat ini berusaha melakukan berbagai perubahan secara akseleratif, berlandaskan prinsip-prinsip Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Ketiga ranah pembangunan tersebut bisa dibedakan tapi tak dapat dipisahkan. Satu sama lain saling memerlukan pertautan secara sinergis. Perubahan mental-kultural memerlukan dukungan politik dan material berupa politik kebudayaan dan ekonomi budaya. Sebaliknya perubahan politik memerlukan dukungan budaya dan material berupa budaya demokrasi dan ekonomi politik.
Saudara - saudara sebangsa setanah air, patriot bangsa yang budiman,
Republik Indonesia yang berdiri atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa ini dapat kita terus nikmati kemerdekaannya karena para pahlawan pendahulu kita mengajarkan kepada kita keteladanan akan rela berkorban. Bung Karno mengingatkan berkali-kali dalam berbagai pidatonya, bahwa kehidupan bernegara Republik Indonesia ini hanya bisa terwujud dan menjadi lebih baik dan maju kalau kita semua mau berkorban, mau memberi dan mau mengabdikan hidup untuk merawatnya!
Kalangan ulama sufi mengajarkan mutiara kebijaksanaan; bahwa jalan membangun ketaqwaan dan hidup berkah dibawah lindungan Allah SWT adalah dengan meluruhkan ego personal dan kepentingan kelompok untuk meleburkan kita dalam tarian pengabdian kepada Sang Khalik bersama dengan semesta alam.
Saudara-saudara sekalian, bukan sebuah kebetulan tanpa penghayatan dan pemikiran yang mendalam ketika para pendiri republik menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Sila Pertama. Mengingat bahwa hanya dengan hadirnya spiritualitas didalam jiwa sebuah masyarakat, dengan Iman kepada Allah Yang Maha Kuasa, tiap-tiap orang rela mengorbankan dan memberi hidup dan jiwanya untuk tujuan kehidupan bersama. Demikianlah yang kita dapat pelajari dalam momen Peristiwa 10 November 1945.
Inilah yang menjadi penjelasan ketika Bung Tomo meneriakkan pekik yang membakar semangat juang yaitu; Allahu Akbar. Demikian pulalah yang membuat KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah ditanya oleh Bung Karno, bagaimana hukum dan posisi ummat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Demikianlah soliditas dan solidaritas kebangsaan dari seluruh rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya.
Dalam semangat cinta tanah air, menjaga pusparagamnya dan kebhinekaan kita, para pendiri republik dan pahlawan pendahulu menuangkan sumbangan terbaiknya kepada kita semua. Pada 28 Oktober 1928, seluruh pemuda Indonesia meluluhkan ego-ego kedaerahan, kelompok, ras dan golongan untuk menyatakan dan berikrar sebagai satu tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia.
Ikrar kebangsaan inilah yang memberi spirit pengorbanan persatuan wanita Indonesia melalui Kongres Wanita Indonesia tahun 1928 selaras dengan perjuangan RA Kartini untuk memberi pendidikan modern dan kebangsaan bagi rakyat Nusantara sebelum Sumpah Pemuda dicetuskan. Ikrar kebangsaan Indonesia inilah yang memberi semangat pada pemuda Wage Rudolf Supratman untuk memperdengarkan pertama kalinya sebuah lagu yang selanjutnya menjadi lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam pertemuan Sumpah Pemuda 1928. Kesadaran keIndonesiaan ini pula yang menggerakkan seorang keturunan Tionghoa bernama Kwee Kek Beng yang menjadi pemimpin redaksi koran Sin Po. Pada saat kepemimpinan beliaulah koran Sin Po menjadi koran pertama yang berani memuat teks lagu Indonesia Raya meskipun harus berhadapan dengan ancaman kolonial Belanda.
Keteladanan untuk membangun kebersamaan dan persatuan yang melampaui partikularitas ini pula - yang menggerakkan Pemuda Kristen asal Ambon bernama Johannes Leimena untuk mengkonsolidasikan para pemuda Kristen lainnya, meninggalkan partikularitas - menjadi satu - menjadi bagian dari Bangsa Indonesia.
Semangat rela berkorban ini pula yang menggerakkan KH. Wahab Hasbullah pada tahun 1934 melahirkan syair menggetarkan Yaa ahlal Wathan [wahai patriot bangsa] yang dengan karya seni ini beliau mengisyaratkan sebuah fatwa penting bahwa kecintaan terhadap tanah air Indonesia adalah bagian dari iman!
Dan selanjutnya pada peristiwa Pertempuran 10 November, inspirasi dari RA Kartini, ikrar Sumpah Pemuda, lagu kebangsaan Indonesia Raya, keberanian dari Kwee Kek Beng, komitmen dari Johannes Leimena, Syair Yaa ahlal Wathan dan berbagai karya cipta yang menggerakkan ruh pendahulu kita, berperan besar sebagai penanda estetik – heroik , sebagai energi penggerak Arek-Arek Suroboyo yang dibantu dengan semangat solidaritas dan bela rasa oleh seluruh Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Saudara - saudara sebangsa setanah air patriot bangsa yang budiman,
Riwayat negeri kita Republik Indonesia menorehkan banyak sekali teladan tentang semangat untuk memberi dan semangat untuk berkorban menjaga persatuan Indonesia. Mari kita panggil memori kita, pada saat fajar kemerdekaan Indonesia, pada 18 Agustus 1945 para pendiri Republik dari golongan Islam yakni KH Wahid Hasjim, Kasman Singodimejo, Ki Bagoes Hadikusumo dan Tengkoe Muhammad Hassan bersama dengan Muhammad Hatta memberikan sumbangan besar bagi bangsa ini yakni menghapus tujuh kata ”Dengan menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan merubah Sila Pertama menjadi ”Ketuhanan Yang Maha Esa” dengan lapang hati.
Semangat kebangsaan kita yang juga kita kenang hari ini di Hari Pahlawan adalah sebuah nasionalisme yang dilandasi oleh kemanusiaan universal bukan nasionalisme yang sempit. Sebuah nasionalisme yang oleh Bung Karno diikrarkan bahwa ”My Nationalism is Humanity”. Sebuah nasionalisme yang ditegaskan dalam Pidato 1 Juni Lahirnya Pancasila bahwa nasionalisme hanya bisa hidup subur di dalam tamansarinya internasionalisme. Internasionalisme dapat hidup subur jikalau berakar dalam buminya nasionalisme.
Prinsip yang dibangun oleh sebuah landasan filosofis yang tinggi bahwa kita bukanlah makhluk egois namun makhluk sosial yang menghimpun menjadi satu sebagai sebuah bangsa, yakni bangsa Indonesia. Di dalam kehidupan menjadi bangsa tersebut kita menyadari diri pula bahwa diri kita adalah bagian dari keluarga besar ummat manusia.
Saudara sebangsa setanah air yang budiman,
Pada dasarnya setiap warga bangsa menyadari bahwa kita semua mewarisi sebuah konsepsi, sebuah etos, sebuah niat dan tindak perilaku kepahlawanan yang tinggi dan luar biasa. Inilah saatnya kita menuntaskan perjuangan membangun bangsa dengan sikap mental yang positif dan konstruktif yaitu membangun sebuah bangsa yang merdeka,maju, berdaulat dan terbuka. Hanya dengan revolusi mental yang positif, optimis dan sadar riwayat kita sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat dan terbuka kita menyelami tantangan dan persoalan yang kita hadapi bersama dengan semangat persatuan di dalam kesetaraan seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi!
Saudara - saudara sebangsa setanah air patriot bangsa yang budiman,
Pada era milenium kedua saat ini kita tengah menyaksikan sebuah transformasi besar dalam hubungan internasional diantara bangsa-bangsa dunia. Kita sedang menyaksikan suatu zaman yang diutarakan oleh jurnalis Gideon Rahman pada tahun 2016 tentang fajar baru pergeseran global dimana kemajuan peradaban dunia disebut sebagai era Easternization atau Timurisasi.
Dalam era kemajuan global seperti ini negara-negara Asia dianggap sebagai kutub-kutub baru kemajuan peradaban dunia. Oleh karena itulah persatuan Indonesia bukan hanya sebuah imperatif yang harus kita rawat sebagai suatu bangsa namun lebih dari itu Persatuan Indonesia adalah sebuah prasyarat bagi kita menjadi bagian dari kekuatan yang tengah tumbuh, the rising force bersama dengan bangsa-bangsa lain yang saat ini menjadi sorotan kemajuan seperti China, India dan Korea untuk menjadi menara-menara baru pembawa obor kemanusiaan. Membawa cahaya baru yang menjadi pandu kemajuan dunia berlandaskan nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan yang sejalan dengan nilai-nilai dasar negara kita yakni Pancasila.
Pada akhirnya, sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan para pahlawan dan pejuang, marilah kita melakukan : HENING CIPTA SERENTAK SELAMA 60 DETIK pada besok tanggal 10 Nopember pukul 08.15 waktu setempat dimanapun berada.
Pada kesempatan yang baik ini kami mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk terus berjuang, bekerja, berkarya menjadi pahlawan bagi diri sendiri, pahlawan bagi lingkungan, pahlawan bagi masyarakat maupun pahlawan bagi negeri ini, Selamat Hari Pahlawan Tahun 2017.
Demikian, semoga Allah Tuhan SWT Yang Maha Esa senantiasa melindungi bangsa dan negara Indonesia. Amin.
Merdeka.
Sekian dan terima kasih.
Wassalamu’alaikum.
Setelah upacara dilanjutkan dengan ziarah nasional di Taman Makam Pahlawan Wira Bhakti Blora. Ziarah diawali dengan upacara, doa dan penyamatan karangan bunga yang dipimpin Kapolres Blora AKBP Saptono sebagai komandan upacara ziarah nasional di TMP Wira Bhakti, AKP Sudarno, Kapolsek Blora Kota.
Bupati Blora Djoko Nugroho, Wakil Bupati Blora Arief Rohman dan Forkopimda Blora bersama anggota Pramuka dan Pelajar SMA menaburkan bunga di pusara para pahlawan.(J02)
by Unknown
November 10, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - 2.684 Guru yang menjadi anggota PGRI dari total 5.000 lebih, Mengikuti Workshop penulisan karya ilmiah yang di selenggarakan dalam rangka HUT PGRI ( Persatuan Guru Republik Indonesia ) ke 72.
Penyelenggaraan Workshop ini merupakan program agar para guru mencapai standar kompetensi, Di smping itu Penulisan karya ilmiah berguna bagi para guru sebagai bekal untuk mengikuti uji kompetensi.
Kasmudi, Ketua PGRI kabupaten Kudus , Ketika di temui usai menghadiri Workshop di SDN 1 Dersalam, Kecamtan Bae, Rabu 08/11/2017, Didampingi oleh pengurus PGRI menjelaskan tentang program dari PGRI yang akan meningkatkan kualitas para guru di sisi SDM.
Saat di singgung mengenai adanya komplain dari salah satu guru di media cetak, Ketua PGRI membantah keras tentang isu adanya pungli dan pemaksaan untuk ikuti Workshop tersebut.
"Tidak ada paksaan bagi para guru untuk ikuti kegiatan ini, karena kegiatan di selenggarakan dalam rangka untuk meningkatkan kualiatas dan kompetensi guru sendir"teganya.
Mengenai hadirnya ketua DPRD dalam acara Workshop, Yang bagi sebagian masyarakat dianggap sebagi upaya penggiringan politik untuk Masan, dengan tegas di tolak oleh Kasmudi.
Kehadiran Masan sebagai ketua DPRD itu wajar karena sebagai mitra dan mengerti tentang anggaran terutama yang berkaitan dengan pengalokasian anggaran untuk peningkatan kualitas guru.(J02)
Penyelenggaraan Workshop ini merupakan program agar para guru mencapai standar kompetensi, Di smping itu Penulisan karya ilmiah berguna bagi para guru sebagai bekal untuk mengikuti uji kompetensi.
Kasmudi, Ketua PGRI kabupaten Kudus , Ketika di temui usai menghadiri Workshop di SDN 1 Dersalam, Kecamtan Bae, Rabu 08/11/2017, Didampingi oleh pengurus PGRI menjelaskan tentang program dari PGRI yang akan meningkatkan kualitas para guru di sisi SDM.
Saat di singgung mengenai adanya komplain dari salah satu guru di media cetak, Ketua PGRI membantah keras tentang isu adanya pungli dan pemaksaan untuk ikuti Workshop tersebut.
"Tidak ada paksaan bagi para guru untuk ikuti kegiatan ini, karena kegiatan di selenggarakan dalam rangka untuk meningkatkan kualiatas dan kompetensi guru sendir"teganya.
Mengenai hadirnya ketua DPRD dalam acara Workshop, Yang bagi sebagian masyarakat dianggap sebagi upaya penggiringan politik untuk Masan, dengan tegas di tolak oleh Kasmudi.
Kehadiran Masan sebagai ketua DPRD itu wajar karena sebagai mitra dan mengerti tentang anggaran terutama yang berkaitan dengan pengalokasian anggaran untuk peningkatan kualitas guru.(J02)
November 07, 2017
by Unknown
November 07, 2017
JURNALPANTURA.COM, Grobogan - Peredaran Narkoba yang sudah masuk ke semua lini di masyarakat merupakan tantangan terbesar bagi para generasi muda di era globalisasi.
Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Drs H Heru Sudjatmoko MSi saat bersilaturahmi dengan para pengasuh dan santri Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin di Desa Brabo, Kecamatan Tangungharjo, Kabupaten Grobogan, Senin 06/11/2017.
Masih Menurut Drs Heru Sudjatmoko, Memerangi narkoba tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja namun harus bersama-sama oleh seluruh kalangan masyarakat. Apalagi dampak narkoba dapat merusak masa depan generasi muda.
“Tantangan paling besar tentu saja narkoba karena bisa masuk ke berbagai lapisan masyarakat. Bahkan kita sebagai orang tua pun belum tentu tahu anak-anak kita sudah menyentuh narkoba,” katanya.
Heru mengatakan pondok-pondok pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam memerangi narkoba. Sebab, ponpes lebih mengutamakan pendidikan agama dan menciptakan generasi muda yang memiliki landasan agama dan moralitas tinggi. Dengan dasar agama yang kuat diharapkan mampu menangkal peredaran narkoba di tengah masyarakat.
Selain tantangan narkoba, imbuhnya, generasi muda juga sangat rentan terhadap dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi. Penggunaan teknologi informasi tanpa dilandasi dengan akhlak yang kuat dapat menjerumuskan mereka ke dalam perilaku yang menyimpang, seperti pornografi, radikalisme dan ujaran-ujaran kebencian yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan negara Indonesia. Ponpes memiliki andil yang sangat besar karena membekali para santrinya dengan landasan agama sangat kuat, mampu menyaring dan memilih informasi bermanfaat dan yang tidak bermanfaat.
“Adanya smartphone manfaatnya besar, tetapi kalau kita tidak punya dasar moralitas akhlakul kharimahmaka bisa terperosok. Bukan manfaat yang diperoleh tapi mudharat,” ujarnya.
Melihat potensi yang besar itu, wajar jika pemerintah terus mendorong dan memfasilitasi pondok pesantren untuk bisa meningkatkan eksistensinya dengan memberikan bantuan-bantuan yang diperlukan ponpes agar dapat meningkatkan kualitas para santri.
Untuk itu pemerintah memberikan bantuan sosial guna pengembangan Ponpes dan untuk Ponpes Sirojuth Tholibin sebesar 75 juta, Lanjutnya(J02)
Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Drs H Heru Sudjatmoko MSi saat bersilaturahmi dengan para pengasuh dan santri Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin di Desa Brabo, Kecamatan Tangungharjo, Kabupaten Grobogan, Senin 06/11/2017.
Masih Menurut Drs Heru Sudjatmoko, Memerangi narkoba tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja namun harus bersama-sama oleh seluruh kalangan masyarakat. Apalagi dampak narkoba dapat merusak masa depan generasi muda.
“Tantangan paling besar tentu saja narkoba karena bisa masuk ke berbagai lapisan masyarakat. Bahkan kita sebagai orang tua pun belum tentu tahu anak-anak kita sudah menyentuh narkoba,” katanya.
Heru mengatakan pondok-pondok pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam memerangi narkoba. Sebab, ponpes lebih mengutamakan pendidikan agama dan menciptakan generasi muda yang memiliki landasan agama dan moralitas tinggi. Dengan dasar agama yang kuat diharapkan mampu menangkal peredaran narkoba di tengah masyarakat.
Selain tantangan narkoba, imbuhnya, generasi muda juga sangat rentan terhadap dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi. Penggunaan teknologi informasi tanpa dilandasi dengan akhlak yang kuat dapat menjerumuskan mereka ke dalam perilaku yang menyimpang, seperti pornografi, radikalisme dan ujaran-ujaran kebencian yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan negara Indonesia. Ponpes memiliki andil yang sangat besar karena membekali para santrinya dengan landasan agama sangat kuat, mampu menyaring dan memilih informasi bermanfaat dan yang tidak bermanfaat.
“Adanya smartphone manfaatnya besar, tetapi kalau kita tidak punya dasar moralitas akhlakul kharimahmaka bisa terperosok. Bukan manfaat yang diperoleh tapi mudharat,” ujarnya.
Melihat potensi yang besar itu, wajar jika pemerintah terus mendorong dan memfasilitasi pondok pesantren untuk bisa meningkatkan eksistensinya dengan memberikan bantuan-bantuan yang diperlukan ponpes agar dapat meningkatkan kualitas para santri.
Untuk itu pemerintah memberikan bantuan sosial guna pengembangan Ponpes dan untuk Ponpes Sirojuth Tholibin sebesar 75 juta, Lanjutnya(J02)
November 05, 2017
by Unknown
November 05, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Maraknya peredaran Narkoba yang terjadi beberapa hari ini, Membuat banyak pihak semakin tergugat untuk membentang diri dari bahaya Narkoba. Untuk itu Kesbangpol Kudus mengadakan kegiatan pelatihan P4GN (Pencegahan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) bagi pelajar.
Pendidikan pelatihan kali ini mengambil tema "Pentingnya membangun kepekaan lingkungan sekolah terhadap bahaya Narkoba" yang dilaksanakan di Wisma Muslimin Janggalan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.Ahad, 05/11/2017.
Abu Bakar, Kasi Kesbangpol Kabupaten Kudus dalam pemaparan materinya menjelaskan, Bahwa penyuluhan P4GN ini dalam rangka meningkatkan upaya penyelamatan generasi muda dari bahaya narkotika.
"Dengan pembekalan, pembinaan, pemahaman, Agar para pelajar mengetahui dan memahami tentang pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran Narkoba"Jelasnya.
Target yang diharapkan adalah dapat terpasilitasinya tenaga-tenaga penyuluh P4GN yang handal dan punya daya tawar yang tinggi serta mampu menanggulangi permasalahan penyalahgunaan narkoba secara menyeluruh serta dapat memberikan pembinaan penyuluhan lebih lanjut kepada para pelajar lainnya dan masyarakat secara umum.
Sekarang ini bangsa indonesia dalam kondisi darurat narkoba maka sebagai generasi muda agar menjauhi tentang Narkoba, Oleh sebab itu mari bersama sama memerangi narkoba mulai dari tingkat bawah agar negara kita bisa mengurangi atau terlepas dari Narkoba.(J02)
Pendidikan pelatihan kali ini mengambil tema "Pentingnya membangun kepekaan lingkungan sekolah terhadap bahaya Narkoba" yang dilaksanakan di Wisma Muslimin Janggalan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.Ahad, 05/11/2017.
Abu Bakar, Kasi Kesbangpol Kabupaten Kudus dalam pemaparan materinya menjelaskan, Bahwa penyuluhan P4GN ini dalam rangka meningkatkan upaya penyelamatan generasi muda dari bahaya narkotika.
"Dengan pembekalan, pembinaan, pemahaman, Agar para pelajar mengetahui dan memahami tentang pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran Narkoba"Jelasnya.
Target yang diharapkan adalah dapat terpasilitasinya tenaga-tenaga penyuluh P4GN yang handal dan punya daya tawar yang tinggi serta mampu menanggulangi permasalahan penyalahgunaan narkoba secara menyeluruh serta dapat memberikan pembinaan penyuluhan lebih lanjut kepada para pelajar lainnya dan masyarakat secara umum.
Sekarang ini bangsa indonesia dalam kondisi darurat narkoba maka sebagai generasi muda agar menjauhi tentang Narkoba, Oleh sebab itu mari bersama sama memerangi narkoba mulai dari tingkat bawah agar negara kita bisa mengurangi atau terlepas dari Narkoba.(J02)
by Unknown
November 05, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - Rapat koordinasi Pengawasan Partisipatif Pemilu Gubernur dan wakil Gubernur serta Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Periode 2018-2023, Dengan menghadirkan pembicara ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kudus, Moh Khanafi, Kepala Kesbangpol Kudus, Eko Hari Jatmiko dan Akademisi, Saekhan Mukhith.
Rakor kali ini mengambil tema "Bersama Rakyat Awasi Pemilu, Bersama Bawaslu Tegakkan Keadilan Pemilu" berlangsung di Hotel Grypta, Sabtu 04/11/2017.
Sejumlah Ormas diundang dalam Rakor diantaranya, Banser NU, Kokam, Muslimat, Pemuda Pancasila dan Perwakilan lintas Agama yang terdiri dari Pemuda/Pemudi Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Khonghucu.
Moh Wahibul Minan, ketua Panwaslu Kudus dalam sambutannya, Mengharapkan partisipasi masyarakat dan elemen yang ada untuk turut serta mengawasi Pemilu karena dengan banyaknya pengawas pemilu akan meminimalkan pelanggaran.(J02)
Rakor kali ini mengambil tema "Bersama Rakyat Awasi Pemilu, Bersama Bawaslu Tegakkan Keadilan Pemilu" berlangsung di Hotel Grypta, Sabtu 04/11/2017.
Sejumlah Ormas diundang dalam Rakor diantaranya, Banser NU, Kokam, Muslimat, Pemuda Pancasila dan Perwakilan lintas Agama yang terdiri dari Pemuda/Pemudi Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Khonghucu.
Moh Wahibul Minan, ketua Panwaslu Kudus dalam sambutannya, Mengharapkan partisipasi masyarakat dan elemen yang ada untuk turut serta mengawasi Pemilu karena dengan banyaknya pengawas pemilu akan meminimalkan pelanggaran.(J02)
by Unknown
November 05, 2017
JURNALPANTURA.COM, Kudus - - Rendahnya penyerapan lulusan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kabupaten Kudus kepada industri perusahaan nasional, salah satunya diakibatkan karena belum terintegrasinya kurikulum pendidikan SMK dengan kurikulum kebutuhan industri.
Hal itu diungkapkan Penanggungjawab Program SMK Kawasan Industri Nasional dan Kawasan Ekonomi Khusus SMK NU Ma'arif Kudus Beny Yulianto dalam acara Revitalisasi SMK Penyelarasan Kejuruan yang diselenggarakan di Hotel @HOM pagi 05/11/2017.
Acara yang terselenggara dengan kerjasama Direktorat Pembina SMK Nasional yang juga dihadiri perwakilan Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan (Disnakertrasduk) Jawa Tengah serta beberapa industri nasional.
Beny menjelaskan, acara tersebut merupakan rangkaian pengembangan SMK yang ditunjuk oleh direktorat yang bertujuan untuk menghasilkan SMK percontohan bagi SMK lain yang ada di Kabupaten Kudus serta daerah sekitarnya.
"Hal tersebut karena kurangnya lulusan siswa SMK yang terserap ke dalam industri. Termasuk lulusan SMK di Kudus, siswa yang terserap ke industri nasional hanya sekitar 10 persen" urainya.
Sedangkan, lanjut Beny, untuk keterserapan di industri lokal, lulusan siswa SMK di Kudus kurang lebih hanya 20-30 persen. Selain itu, penyerapan yang rendah juga disebabkan karena masih banyak lulusan siswa SMK yang takut untuk bekerja di luar daerah dengan berbgai faktor, diantaranya faktor jarak dan keluarga, serta ketangguhan dalam bekerja keras masih kurang.(J02 )
Hal itu diungkapkan Penanggungjawab Program SMK Kawasan Industri Nasional dan Kawasan Ekonomi Khusus SMK NU Ma'arif Kudus Beny Yulianto dalam acara Revitalisasi SMK Penyelarasan Kejuruan yang diselenggarakan di Hotel @HOM pagi 05/11/2017.
Acara yang terselenggara dengan kerjasama Direktorat Pembina SMK Nasional yang juga dihadiri perwakilan Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan (Disnakertrasduk) Jawa Tengah serta beberapa industri nasional.
Beny menjelaskan, acara tersebut merupakan rangkaian pengembangan SMK yang ditunjuk oleh direktorat yang bertujuan untuk menghasilkan SMK percontohan bagi SMK lain yang ada di Kabupaten Kudus serta daerah sekitarnya.
"Hal tersebut karena kurangnya lulusan siswa SMK yang terserap ke dalam industri. Termasuk lulusan SMK di Kudus, siswa yang terserap ke industri nasional hanya sekitar 10 persen" urainya.
Sedangkan, lanjut Beny, untuk keterserapan di industri lokal, lulusan siswa SMK di Kudus kurang lebih hanya 20-30 persen. Selain itu, penyerapan yang rendah juga disebabkan karena masih banyak lulusan siswa SMK yang takut untuk bekerja di luar daerah dengan berbgai faktor, diantaranya faktor jarak dan keluarga, serta ketangguhan dalam bekerja keras masih kurang.(J02 )
Langganan:
Postingan (Atom)





















