Jurnalpantura.Com, Demak - Sebagai salah satu daerah penyumbang pasokan beras baik regional dan nasional, saat ini Kabupaten Demak terus bekerja keras memenuhi kebutuhan pasar terhadap pangan nasional.
Nyatanya, beras asal Demak belum betul - betul berkualitas baik, hal ini seringkali disebabkan petani masih menjalankan sistem konvensional tanpa memperhatikan musim dan perawatan yang semestinya.
Kegagalan yang seringkali dialami petani pada MT 2 lebih cenderung faktor hama wereng, sundep dan tikus.
Untuk itulah, Kodim 0716 Demak bersama Lumbung Banyu Bumi terus bersinergi dan turun ke sawah untuk memperbaiki sistem tata kelola pertanian yang baik dan benar. Tentunya sistem tata kelola ini Bertumpu pada proses awal pendampingan mulai dari memperhatikan masa tanam, air, tanah dan pemberian pupuk rutin dan berkala.
Petani kedepannya diharapkan mampu mengubah cara dan menjalankan sistem tata kelola yang baik sekaligus dapat memasarkan sendiri berasnya, karena dengan seperti itu petani akan mampu mengangkat kualitas hidupnya.
Petani itu tidak boleh sendiri - sendiri, melainkan harus berkorporasi Membangun sistem kerja berkelompok, mulai dari kelompok kecil, lokal, regional dan nasional seperti yang sering disampaikan oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo beberapa waktu lalu.
Di lahan desa Kuwu kecamatan Dempet, telah dipanen varietas L-58 aromatik oleh Kodim Demak bersama Lumbung Banyu Bumi. Panen perdana bersama Kodim ini akan membuktikan bahwa sistem tata kelola pertanian yang merupakan program CSR dari Lumbung Banyu Bumi berhasil optimal, mulai dari ketahanan padi dari musim dan hama, bulir yang banyak yang menentukan tonase yang bertambah.
Satriyo Seno Surono menjelaskan, "Sistem tata kelola pertanian yang kami jalankan selama ini memang seharusnya sudah di implementasikan ke seluruh wilayah di Jawa tengah bahkan seluruh Indonesia secara massif, agar kita betul-betul dapat membantu petani, merubah mindset petani konvensional sekaligus memakmurkan petani itu sendiri tentunya dengan demikian Kedaulatan Pangan yang selama ini hanya menjadi Jargon dapat betul-betul diwujudkan di Indonesia".
Pernyataan tersebut juga diamini oleh Dandim Demak, Letkol Inf. Abi Kusnianto bahwa memang sistem tata kelola pertanian lumbung banyu bumi bukan hanya baik secara sistem namun juga pemuliaan tanah yang menjadi baik dari sebelumnya. Selain itu, Sistem tata kelola alsintan juga harus diperbaiki agar dapat dimanfaatkan petani dengan memperhatikan SDM maintenance alsintan sesuai dengan kapasitasnya serta pengelolaannya melalui BUMDES agar dapat menghidupkan perekonomian desa yang selama ini belum maksimal dan masih bergantung pada subsidi pemerintah.
Yang terpenting dari Kolaborasi Lumbung Banyu Bumi sebagai Penggagas Sistem Tata Kelola Pertanian, peran TNI juga sangat penting terlebih perlunya sinergitas dari semua pihak, baik pemerintah daerah hingga perangkat desa selaku pengendali dan pelaksana sistem, serta peran TNI selaku pengawal pertanian yang lebih baik serta mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional dan negara lain.
'Kita tidak bisa diam saja melihat petani menjerit saat panen bersamaaan tetapi petani juga harus mengerti bagaimana cara memperbaiki tata kelola pada awal tanam agar harganya tetap tinggi dan kualitas tetap baik karena setelah hasil semua baik, maka pasar akan menyambut dengan sukacita, petani akan semakin percaya diri, pembeli akan datang dengan sendirinya sehingga pemasaran beras Demak tidak lagi dihantui rasa ketakutan oleh petani' ungkap Satriyo Seno Surono saat ditanya bagaimana meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil panen.
Direktur Lumbung Banyu Bumi sekaligus Wakil Ketua HKTI Provinsi Jawa Tengah bidang Tata Kelola Pertanian, Satriyo Seno Surono menuturkan "Pemasaran dengan sendirinya terwujud dengan sistem pemasaran yang sudah di persiapkan sejak awal tanam dan semua unsur dari petani, pedagang menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dan masyarakat akan mendapat pangan sehat dan murah yang diharapkan".
"Tantangan kita adalah membuka pasar jangka panjang, kelangsungan pangan nasional sangat ditentukan oleh petani dan tentunya ini menjadi tanggung jawab bersama untuk benar benar memberikan perhatian terhadap nasib petani, khususnya di demak selain itu keberhasilan sektor pertanian sudah sangat dinanti generasi muda untuk bergabung melanjutkan dan membangun sektor pertanian dan peternakan dalam wujudkan pangan, sebagai pengusaha dan pelaku tani. Oleh sebab itu, sayangnya keberhasilan sistem tata kelola pertanian ini juga di ikuti dengan harga sewa lahan yang mahal tentunya menjadi masalah bagi petani kecil. "Ketentuan sewa menyewa lahan yg harus diperbaiki dalam sistem lelang desa, harga yang memberatkan petani dan hanya mampu d sewa bagi ekonomi tinggi" kata Satriyo Seno Surono. (J02 /A01)
Juli 03, 2018
by Unknown
Juli 03, 2018
Jurnalpantura.Com Jurnalpantura.Com, Kudus - Mahasiswa STIBI Syekh Jangkung, yang digawangi oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) menggelar Latihan Jurnalistik di salah satu kediaman mahasiswa Kudus, dengan menggandeng LPM Paradigma IAIN Kudus, 01/07/18.
Sinau Jurnalistik yang bertema "Podo Geguyuban Anggone Sinau Nulis" tersebut diikuti oleh belasan mahasiswa, baik mahasiswa asal Kudus, Pati, Demak maupun Jepara yang gegayuhan serius belajar menulis.
Presiden Mahasiswa STIBI Syekh Jangkung, Achmad Fakhrudin mengutarakan,"kegiatan ini sebagai salah satu wujud membangun literasi kampus, meredam budaya hoax yang kian marak," katanya.
Udin, begitu kerap disapa, Mahasiswa STIBI asal Kudus itu juga menambahkan,"selain daripada hal tersebut, saat ini memang mahasiswa harus memperbanyak referensi bacaan, terlebih memantik mereka agar terdorong, bergelut didunia pers kampus," jelasnya.
Alhamdulillah, kegiatan ini mendapat dukungan penuh baik kampus maupun mahasiswa, meskipun lokasi pelatihan jurnalistik berada di Kudus, tapi antusiasme dari mereka begitu apik.
"Terima kasih kepada LPM Paradigma IAIN Kudus karena bimbingan dan sharing soal pers kampus dan juga turut membantu kami dalam membangun LPM(Lembaga Pers Mahasiswa) Saba' di STIBI,"pungkasnya. (Nrs/A02)
by Unknown
Juli 03, 2018
Jurnalpantura.Com Jurnalpantura.Com, kendal - Gelaran tahunan Forum Komonikasi Desa Wisata, sekaligus Halal Bi Halal untuk tahun 2018, giliran Kabupaten Kendal menjadi tuan rumah. Kabupaten Kendal Kabupaten kendal menjadi tuan Rumah pertemuan rutin Forkom dan halal bi halal pengelola desa wisata se-Jawa Tengah, kata Tatang Sariawan ketua Forum komunikasi desa wisata Jawa tengah.
Ketua Forum Komonikasi Desa Wisata Jawa Tengah, mengatakan, "Kegiatan yang diselenggarakan FK Deswita (Forum Komunikasi Desa Wisata) Jateng 29-30 Juni 2018 itu dipusatkan di Desa Wisata Curuq Sewu, Kecamatan patean, Kabupaten Kendal."
Menurut dia, Curuq sewu dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki keindahan alam yg khas dan juga kemajuan yang pesat dalam pengembangan desa wisata di Jateng, Jumat 29/06/2018.
Desa Curuq sewu merupakan desa yang berada di pegunungan prahu dengam panorama yang indah dan memiliki air terjun yang unik dan tidak pernah surut airnya walaupun musim kemarau.
Sementara dalam hal kelembagaan pengelolaan desa wisata, lanjut dia, Curuq Sewu dinilai sebagai desa wisata yang berkembang dan meiliki kemajuan pesat.
Lebih lanjut, Tatang mengatakan pertemuan FK Deswita merupakan ajang tukar pengalaman dan informasi dalam pengembangan desa wisata se-Jateng yang digelar setiap tiga bulan sekali.
"Berbagai hal dibahas agar pengembangan desa wisata terus meningkat dan mampu menggerakkan perekonomian warga di desa," katanya.
Selain dipercaya sebagai tuan rumah pertemuan FK Deswita, Desa wisata Curuq sewu dalam waktu dekat juga akan diikutsertakan dalam lomba pengelolaan desa wisata tingkat jawa tengah yang diselenggarakan oleh dinas pariwisata provinsi Jateng di Ungaran pada bulan Sepetember yang akan datang, ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan Desa Wisata Kudus (Dewiku) yang dipimpin Anis, menyampaikan bahwa rombongan anggota Dewiku yang ikut hadir dalam pertemuan ini berjumlah enam belas anggota tersebar dari beberapa Desa Wisata di Kabupaten Kudus.
"Desa Wisata Loram Kulon, Hadipolo, Margorejo ,Jepang, Dukuh Waringin dan Desa Wonosoco serta dua pendamping dari Dinas Pariwisata."Jelas Anis.
Rombongan tersebut bersama-sama ketua Giptta dan Crew JBO Manajemen mengikuti rangakaian acara yang dilaksanakan selama dua hari. (MD/A02)
Ketua Forum Komonikasi Desa Wisata Jawa Tengah, mengatakan, "Kegiatan yang diselenggarakan FK Deswita (Forum Komunikasi Desa Wisata) Jateng 29-30 Juni 2018 itu dipusatkan di Desa Wisata Curuq Sewu, Kecamatan patean, Kabupaten Kendal."
Menurut dia, Curuq sewu dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki keindahan alam yg khas dan juga kemajuan yang pesat dalam pengembangan desa wisata di Jateng, Jumat 29/06/2018.
Desa Curuq sewu merupakan desa yang berada di pegunungan prahu dengam panorama yang indah dan memiliki air terjun yang unik dan tidak pernah surut airnya walaupun musim kemarau.
Sementara dalam hal kelembagaan pengelolaan desa wisata, lanjut dia, Curuq Sewu dinilai sebagai desa wisata yang berkembang dan meiliki kemajuan pesat.
Lebih lanjut, Tatang mengatakan pertemuan FK Deswita merupakan ajang tukar pengalaman dan informasi dalam pengembangan desa wisata se-Jateng yang digelar setiap tiga bulan sekali.
"Berbagai hal dibahas agar pengembangan desa wisata terus meningkat dan mampu menggerakkan perekonomian warga di desa," katanya.
Selain dipercaya sebagai tuan rumah pertemuan FK Deswita, Desa wisata Curuq sewu dalam waktu dekat juga akan diikutsertakan dalam lomba pengelolaan desa wisata tingkat jawa tengah yang diselenggarakan oleh dinas pariwisata provinsi Jateng di Ungaran pada bulan Sepetember yang akan datang, ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan Desa Wisata Kudus (Dewiku) yang dipimpin Anis, menyampaikan bahwa rombongan anggota Dewiku yang ikut hadir dalam pertemuan ini berjumlah enam belas anggota tersebar dari beberapa Desa Wisata di Kabupaten Kudus.
"Desa Wisata Loram Kulon, Hadipolo, Margorejo ,Jepang, Dukuh Waringin dan Desa Wonosoco serta dua pendamping dari Dinas Pariwisata."Jelas Anis.
Rombongan tersebut bersama-sama ketua Giptta dan Crew JBO Manajemen mengikuti rangakaian acara yang dilaksanakan selama dua hari. (MD/A02)
Juli 02, 2018
by Unknown
Juli 02, 2018
Jurnalpantura.Com, Kudus - Eforia kemenangan Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kudus nomor urut 5 sangat terasa dirasakan oleh pendukung Tamzil-Hartopo.
Meski rekapitulasi hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kudus2018 secara resmi belum diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kudus.
Seperti yang dilakukan oleh H Heris Paryono siang tadi, sebagai wujud pelaksanaan nazar atau memenuhi janji akan berbuat sesuatu jika maksud tercapai, ketua DPC PDI Pro Mega dan Ketua DPC PDI Perjuangan tahun 1996-2001 yang pada kampanye Pilkada Bupati Kudus kemarin menjadi Tim Pemenangan Paslon Nomor urut 5, memenuhi janjinya menyerahkan satu unit mobil kesayangannya KIA Carnival miliknya kepada salah seorang anggota tim pemenangan, Mahmudun, Senin 02/07/2018.
Mahmudun yang juga sekretaris DPC Organda Kudus dinilai oleh Heris sebagai sosok yang pantas diberi hadiah olehnya akibat kegigihannya dan pantang menyerah untuk berkampanye siang malam memenangkan pasangan yang di usung oleh PKB,PPP dan Partai Hanura tersebut.
Dengan menggunakan mobil pengangkut kendaraan roda empat atau lebih, mobil yang masih berstiker branding pemenangan tersebut berhenti dan dilakukan serah terima kepada pria yang juga menjabat sebagai sekretaris DPC Organda Kabupaten Kudus di depan air mancur pendopo Simpangtujuh.
Dalam kesempatan tersebut Heris kepada awak media menyampaikan, Dirinya memang bernazar bila pasangan Tamzil-Hartopo memenangi Pilkada saya berjanji mobil ini akan saya serahkan kepada saudara Mahmudun.
“ Tak hanya itu, saya juga bernazar akan menyerahkan sepeda motor kepada saudara Kasrum, telah memberangkatkan umroh dua orang janda, dan mewakafkan 10 bidang tanah sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan pak Tamzil sebagai bupati Kudus,” katanya.
Selain nazar fisik Heris juga mengaku sudah menyelesaikan nazar untuk membaca shalawat sebanyak 20.000.
Motivasi memberikan mobil tersebut kepada Mahmudun adalah, karena Mahmudun sebagai sosok yang paling getol membantunya melaksanakan Manakiban.
“Dengan mobil ini saya dan Mahmudun hampir 80 hari menggelar manakiban dari tempat satu ke tempat yang lain, mobil ini pula yang mengangkut kebutuhan logistik kegiatan tersebut, saya dan Mahmudun sudah mendukung pak Tamzil menjadi bakal Calon jauh sebelum memperoleh rekomendasi dari partai-partai,” ujarnya.
Sementara itu Mahmudun mengaku gembira dan berterimakasih atas hadiah yang diberikan oleh seniornya tersebut.
“Insya Allah sebagai tanda kenang-kenangan, saya tidak akan menjual mobil ini,” pungkas Mahmudun berseri-seri. (J02 /A01)
Meski rekapitulasi hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kudus2018 secara resmi belum diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kudus.
Seperti yang dilakukan oleh H Heris Paryono siang tadi, sebagai wujud pelaksanaan nazar atau memenuhi janji akan berbuat sesuatu jika maksud tercapai, ketua DPC PDI Pro Mega dan Ketua DPC PDI Perjuangan tahun 1996-2001 yang pada kampanye Pilkada Bupati Kudus kemarin menjadi Tim Pemenangan Paslon Nomor urut 5, memenuhi janjinya menyerahkan satu unit mobil kesayangannya KIA Carnival miliknya kepada salah seorang anggota tim pemenangan, Mahmudun, Senin 02/07/2018.
Mahmudun yang juga sekretaris DPC Organda Kudus dinilai oleh Heris sebagai sosok yang pantas diberi hadiah olehnya akibat kegigihannya dan pantang menyerah untuk berkampanye siang malam memenangkan pasangan yang di usung oleh PKB,PPP dan Partai Hanura tersebut.
Dengan menggunakan mobil pengangkut kendaraan roda empat atau lebih, mobil yang masih berstiker branding pemenangan tersebut berhenti dan dilakukan serah terima kepada pria yang juga menjabat sebagai sekretaris DPC Organda Kabupaten Kudus di depan air mancur pendopo Simpangtujuh.
Dalam kesempatan tersebut Heris kepada awak media menyampaikan, Dirinya memang bernazar bila pasangan Tamzil-Hartopo memenangi Pilkada saya berjanji mobil ini akan saya serahkan kepada saudara Mahmudun.
“ Tak hanya itu, saya juga bernazar akan menyerahkan sepeda motor kepada saudara Kasrum, telah memberangkatkan umroh dua orang janda, dan mewakafkan 10 bidang tanah sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan pak Tamzil sebagai bupati Kudus,” katanya.
Selain nazar fisik Heris juga mengaku sudah menyelesaikan nazar untuk membaca shalawat sebanyak 20.000.
Motivasi memberikan mobil tersebut kepada Mahmudun adalah, karena Mahmudun sebagai sosok yang paling getol membantunya melaksanakan Manakiban.
“Dengan mobil ini saya dan Mahmudun hampir 80 hari menggelar manakiban dari tempat satu ke tempat yang lain, mobil ini pula yang mengangkut kebutuhan logistik kegiatan tersebut, saya dan Mahmudun sudah mendukung pak Tamzil menjadi bakal Calon jauh sebelum memperoleh rekomendasi dari partai-partai,” ujarnya.
Sementara itu Mahmudun mengaku gembira dan berterimakasih atas hadiah yang diberikan oleh seniornya tersebut.
“Insya Allah sebagai tanda kenang-kenangan, saya tidak akan menjual mobil ini,” pungkas Mahmudun berseri-seri. (J02 /A01)
Juni 29, 2018
by Unknown
Juni 29, 2018
Jurnalpantura.Com, Kudus - Demi menjaga kualitas produk dan jaminan keamanan mutu pengolahan ikan, dinas kelautan dan perikanan provinsi Jawa Tengah, melalui dinas pertanian dan ketahanan pangan kabupaten Kudus, menggelar pelatihan dan pembinaan penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan bagi unit Pengolahan Ikan (UPI). Acara tersebut digelar, Kamis 28/06/2018 di aula kantor Bidang perikanan kabupaten Kudus.
Kepala dinas kelautan dan perikanan provinsi jawa tengah yang di wakili oleh Ir Santoso, MS.i dalam sambutan pembukaan acara diklat tersebut
menyampaikan, meski jarang menemui kendala namun pihaknya ingin agar Unit Pengolahan Ikan (UPI) tetap menjaga kualitas dan keamanan produknya.
Saat ini, jumlah UPI di kabupaten Kudus yang tergabung dalam Asossiasi Pengolahan Ikan dan Pemasar Ikan (APPI) mencapai 35 anggota dan produk mereka sudah mencapai kawasan Jawa tengah, Jawa Barat, Jakarta, Surabaya, Bali dan malaysia.
Kepala Dinas Pertanian dan ketahanan pangan yang di wakili oleh Kepala Bidang perikanan Fajar S.P dalam pemaparanya menyampaikan
"Kami ingin kompetensi Quality Control di perusahaan pengolahan ikan meningkat demi kepentingan perusahaan ikan itu sendiri, terutama agar produk perikanan mereka terjamin mutu, keamanan dan bisa diterima di kota tujuan," jelas Fajar. mengenai alasan digelarnya acara ini.
Nantinya, peserta kegiatan ini akan menerima bimbingan dan pembinaan lanjutan, kami berharap kedepan para anggota yang tergabung dalam APPI Assosiasi Pengolahan dan Pemasaran Ikan kabupaten Kudus akan mendapatkan SMP.
"Materi pelatihan sendiri meliputi Good Manufacturing Practice (GMP), Standard Sanitation Operating Procedure (SSOP) dan HACCP, serta peningkatan kualitas kesehatan UPI melalui cek BP POM Prov Jateng dilanjutkan observasi lapangan ke kampung Bandeng di desa wisata Loram kulon" sambung Fajar.
Menurut keteranngan M Iqbal, "Beberapa produk dari anggota APPI adalah bandeng presto, otak otak bandeng, bandeng asap, krupuk kulit ikan, teri kering, kripik cumi, rengginang ikan, fish bone, abon ikan, ikan asap dan beberapa reseller' ungkap ketua APPI Kudus, BM Iqbal.
Selain itu, dalam kesempatan acara diklat hadir dan diramaiakn juga oleh anggota komunitas JBO Jual Beli Online dengan membawa beberapa sample produk olahan khas dari bahan baku ikan, seperti Siomey ikan goreng produksi Deby, orak arik pedo produksi Yayuk, juga ceker ayam kombinasi tepung ikan produksi Nok dan bakso ikan oleh maryam, semua dilakukan cek/test oleh BP POM dan dinyatakan bebas formalin. (md/A02)
Kepala dinas kelautan dan perikanan provinsi jawa tengah yang di wakili oleh Ir Santoso, MS.i dalam sambutan pembukaan acara diklat tersebut
menyampaikan, meski jarang menemui kendala namun pihaknya ingin agar Unit Pengolahan Ikan (UPI) tetap menjaga kualitas dan keamanan produknya.
Saat ini, jumlah UPI di kabupaten Kudus yang tergabung dalam Asossiasi Pengolahan Ikan dan Pemasar Ikan (APPI) mencapai 35 anggota dan produk mereka sudah mencapai kawasan Jawa tengah, Jawa Barat, Jakarta, Surabaya, Bali dan malaysia.
Kepala Dinas Pertanian dan ketahanan pangan yang di wakili oleh Kepala Bidang perikanan Fajar S.P dalam pemaparanya menyampaikan
"Kami ingin kompetensi Quality Control di perusahaan pengolahan ikan meningkat demi kepentingan perusahaan ikan itu sendiri, terutama agar produk perikanan mereka terjamin mutu, keamanan dan bisa diterima di kota tujuan," jelas Fajar. mengenai alasan digelarnya acara ini.
Nantinya, peserta kegiatan ini akan menerima bimbingan dan pembinaan lanjutan, kami berharap kedepan para anggota yang tergabung dalam APPI Assosiasi Pengolahan dan Pemasaran Ikan kabupaten Kudus akan mendapatkan SMP.
"Materi pelatihan sendiri meliputi Good Manufacturing Practice (GMP), Standard Sanitation Operating Procedure (SSOP) dan HACCP, serta peningkatan kualitas kesehatan UPI melalui cek BP POM Prov Jateng dilanjutkan observasi lapangan ke kampung Bandeng di desa wisata Loram kulon" sambung Fajar.
Menurut keteranngan M Iqbal, "Beberapa produk dari anggota APPI adalah bandeng presto, otak otak bandeng, bandeng asap, krupuk kulit ikan, teri kering, kripik cumi, rengginang ikan, fish bone, abon ikan, ikan asap dan beberapa reseller' ungkap ketua APPI Kudus, BM Iqbal.
Selain itu, dalam kesempatan acara diklat hadir dan diramaiakn juga oleh anggota komunitas JBO Jual Beli Online dengan membawa beberapa sample produk olahan khas dari bahan baku ikan, seperti Siomey ikan goreng produksi Deby, orak arik pedo produksi Yayuk, juga ceker ayam kombinasi tepung ikan produksi Nok dan bakso ikan oleh maryam, semua dilakukan cek/test oleh BP POM dan dinyatakan bebas formalin. (md/A02)
by Unknown
Juni 29, 2018
Jurnalpantura.Com, Kudus – Pertunjukan seni merupakan media paling efektif untuk menyuarakan, mempresentasikan, dan/atau menyampaikan sebuah opini. Semakin baik apresiasi masyarakat terhadap seni, maka semakin maju peradaban sebuah bangsa. Berangkat dari hal tersebut, Sha Ine Febriyanti tergerak untuk berbagi talenta di bidang seni pertunjukan untuk mengadakan roadshow yang menghadirkan Pentas Monolog Cut Nyak Dhien dan mengadakan workshop atau diskusi di sepuluh kota di Indonesia.
Didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, kegiatan ini diselenggarakan mulai dari tanggal 27 April 2018 di Gianyar, Bali kemudian berlanjut pada bulan Mei ke Makassar, Solo, dan Surabaya. Di bulan Juni, Cut Nyak Dhien akan bertandang ke Kudus sebelum ke Tasikmalaya dan Bandung pada awal Juli dan Medan di akhir Agustus serta Padang dan berakhir di Padang Panjang pada September 2018.
“Sebagai seorang pejuang dan juga seorang ibu, Cut Nyak Dhien, melalui cerita sejarahnya banyak memberikan inspirasi bagi saya. Inilah yang menggerakan saya untuk memperkenalkan cerita beliau kepada khalayak ramai. Dari Cut Nyak Dhien, kita belajar tentang keberanian, prinsip serta perlawanan sekuat-kuatnya dan tak henti,” ujar Sha Ine Febriyanti, Aktor dan Sutradara Monolog Cut Nyak Dhien.
Pada hari ini, pentas Monolog Cut Nyak Dhien diselenggarakan di Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah juga didukung oleh Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) dan bekerja sama dengan Kajian Kreativitas Seni Obeng Fakultas Teknik Universtas Muria Kudus juga turut mendukung pementasan ini. Sha Ine Febriyanti akan tampil dalam panggung Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus. Selain pertunjukan, adapula workshop yang diperuntukan untuk para generasi muda teater Kudus dan sekitarnya. Dalam workshop, pengunjung akan diberikan materi tentang pemeranan dan pengkreasian dalam teater monolog. Sha Ine Febriyanti yang telah berpengalaman dalam dunia seni peran, akan berbagi semangat, ilmu dan segala hal kaitannya dengang teater untuk memunculkan para bibit-bibit baru di generasi berikutnya.
Ketua Badan Pekerja FASBuK, Arfin AM menjelaskan “Sebagai ruang kerja fisik dan pemikiran untuk mencipta inovasi serta varian-varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal yang nantinya mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat dengan masyarakat sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.”
Berdiri sejak 12 Januari 2009, setiap bulannya FASBuK rutin menggelar acara sastra dan seni budaya yang meliputai apresiasi sastra, sarasehan budaya, pertunjukan musik, tari dan pementasan drama/teater, dan masih banyak lagi. “Kehadiran Sha Ine Febriyanti di Kudus dengan membawakan pentas monolog ini, tentunya memberikan pengalaman menarik bagi kami. Totalitas Sha Ine Febriyanti dalam membawakan monolog ini juga patut diacungi jempol dan workshop yang diadakan pun mendapat antusias yang luar biasa dari generasi muda di Kudus. Kami harap kedepannya semakin banyak pelaku seni pertunjukan Indonesia yang mengadakan pentas dan berbagi pengalaman seni di Kudus,” tambah Arfin AM
Monolog Cut Nyak Dhien mengangkat sisi perempuan Cut Nyak Dhien sebagai seorang istri dan ibu yang juga goyah ketika kehilangan menghampiri kehidupannya. Dikenal sebagai seorang perempuan pejuang perkasa, Cut Nyak Dhien tak pernah menunjukkan kepedihan hati maupun dukanya saat ditinggal pergi orang yang dikasihinya, sang suami, Teuku Ibrahim ataupun Teuku Umar. Sebagai seorang ibu, Cut Nyak Dhien harus tetap terlihat tegar di depan anaknya, juga di depan mereka yang membutuhkan tuntunan dan kepemimpinannya.
“Nama Cut Nyak Dhien sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Sejak berada di bangku sekolah dasar, Cut Nyak Dhien diperkenalkan kepada kita sebagai seorang perempuan pejuang perkasa dari Nanggroe Aceh Darussalam yang pantang menyerah. Dalam monolog ini, Sha Ine Febriyanti akan mengenalkan sisi lain Cut Nyak Dhien yang juga merupakan seorang perempuan, seorang istri dan ibu yang tangguh. Pentas ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan lebih dalam mengenai sosok Cut Nyak Dhien serta menginspirasi masyarakat luas melalui semangat dan kegigihan yang beliau miliki,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.
Sebagai seorang istri, Cut Nyak Dhien acap kali gelisah ketika suaminya pamit ke medan perang dan tak terdengar kabar keberadaannya. Meski dirinya memahami risiko yang akan dihadapi suaminya berhadapan dengan para khape di medan juang, Cut Nyak Dhien tetaplah perempuan yang punya rasa, yang hatinya hancur, dan menangis kala yang datang adalah kabar duka.
Setelah kematian Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bangkit untuk meneruskan jejak dan semangat juang suaminya, bergerilya bersama pasukannya hingga dirinya ditangkap dan dijauhkan dari tanah kelahirannya, diasingkan ke pulau Jawa.
Kisah ini dituturkan Cut Nyak Dhien dari hutan Sumedang, tempatnya menjalani masa-masa pengasingan hingga tutup usia pada 6 November 1908. Didukung juga oleh Subdit Seni Pertunjukan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Panitia Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018, Swiss-Belhotel Makassar serta komunitas-komunitas teater di daerah. Karya ini disutradarai dan dimainkan oleh Sha Ine Febriyanti dan dipentaskan pertama kali pada tahun 2014 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta dan dibawa berkeliling ke beberapa kota di Indonesia Pada 2015. Tahun ke-109 kepergian Cut Nyak Dhien, monolog ini dipentaskan kembali pada 16 November 2017 di Bentara Budaya, Jakarta dan Kuala Lumpur pada 7 Februari 2018.
Didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, kegiatan ini diselenggarakan mulai dari tanggal 27 April 2018 di Gianyar, Bali kemudian berlanjut pada bulan Mei ke Makassar, Solo, dan Surabaya. Di bulan Juni, Cut Nyak Dhien akan bertandang ke Kudus sebelum ke Tasikmalaya dan Bandung pada awal Juli dan Medan di akhir Agustus serta Padang dan berakhir di Padang Panjang pada September 2018.
“Sebagai seorang pejuang dan juga seorang ibu, Cut Nyak Dhien, melalui cerita sejarahnya banyak memberikan inspirasi bagi saya. Inilah yang menggerakan saya untuk memperkenalkan cerita beliau kepada khalayak ramai. Dari Cut Nyak Dhien, kita belajar tentang keberanian, prinsip serta perlawanan sekuat-kuatnya dan tak henti,” ujar Sha Ine Febriyanti, Aktor dan Sutradara Monolog Cut Nyak Dhien.
Pada hari ini, pentas Monolog Cut Nyak Dhien diselenggarakan di Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah juga didukung oleh Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) dan bekerja sama dengan Kajian Kreativitas Seni Obeng Fakultas Teknik Universtas Muria Kudus juga turut mendukung pementasan ini. Sha Ine Febriyanti akan tampil dalam panggung Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus. Selain pertunjukan, adapula workshop yang diperuntukan untuk para generasi muda teater Kudus dan sekitarnya. Dalam workshop, pengunjung akan diberikan materi tentang pemeranan dan pengkreasian dalam teater monolog. Sha Ine Febriyanti yang telah berpengalaman dalam dunia seni peran, akan berbagi semangat, ilmu dan segala hal kaitannya dengang teater untuk memunculkan para bibit-bibit baru di generasi berikutnya.
Ketua Badan Pekerja FASBuK, Arfin AM menjelaskan “Sebagai ruang kerja fisik dan pemikiran untuk mencipta inovasi serta varian-varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal yang nantinya mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat dengan masyarakat sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.”
Berdiri sejak 12 Januari 2009, setiap bulannya FASBuK rutin menggelar acara sastra dan seni budaya yang meliputai apresiasi sastra, sarasehan budaya, pertunjukan musik, tari dan pementasan drama/teater, dan masih banyak lagi. “Kehadiran Sha Ine Febriyanti di Kudus dengan membawakan pentas monolog ini, tentunya memberikan pengalaman menarik bagi kami. Totalitas Sha Ine Febriyanti dalam membawakan monolog ini juga patut diacungi jempol dan workshop yang diadakan pun mendapat antusias yang luar biasa dari generasi muda di Kudus. Kami harap kedepannya semakin banyak pelaku seni pertunjukan Indonesia yang mengadakan pentas dan berbagi pengalaman seni di Kudus,” tambah Arfin AM
Monolog Cut Nyak Dhien mengangkat sisi perempuan Cut Nyak Dhien sebagai seorang istri dan ibu yang juga goyah ketika kehilangan menghampiri kehidupannya. Dikenal sebagai seorang perempuan pejuang perkasa, Cut Nyak Dhien tak pernah menunjukkan kepedihan hati maupun dukanya saat ditinggal pergi orang yang dikasihinya, sang suami, Teuku Ibrahim ataupun Teuku Umar. Sebagai seorang ibu, Cut Nyak Dhien harus tetap terlihat tegar di depan anaknya, juga di depan mereka yang membutuhkan tuntunan dan kepemimpinannya.
“Nama Cut Nyak Dhien sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Sejak berada di bangku sekolah dasar, Cut Nyak Dhien diperkenalkan kepada kita sebagai seorang perempuan pejuang perkasa dari Nanggroe Aceh Darussalam yang pantang menyerah. Dalam monolog ini, Sha Ine Febriyanti akan mengenalkan sisi lain Cut Nyak Dhien yang juga merupakan seorang perempuan, seorang istri dan ibu yang tangguh. Pentas ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan lebih dalam mengenai sosok Cut Nyak Dhien serta menginspirasi masyarakat luas melalui semangat dan kegigihan yang beliau miliki,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.
Sebagai seorang istri, Cut Nyak Dhien acap kali gelisah ketika suaminya pamit ke medan perang dan tak terdengar kabar keberadaannya. Meski dirinya memahami risiko yang akan dihadapi suaminya berhadapan dengan para khape di medan juang, Cut Nyak Dhien tetaplah perempuan yang punya rasa, yang hatinya hancur, dan menangis kala yang datang adalah kabar duka.
Setelah kematian Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bangkit untuk meneruskan jejak dan semangat juang suaminya, bergerilya bersama pasukannya hingga dirinya ditangkap dan dijauhkan dari tanah kelahirannya, diasingkan ke pulau Jawa.
Kisah ini dituturkan Cut Nyak Dhien dari hutan Sumedang, tempatnya menjalani masa-masa pengasingan hingga tutup usia pada 6 November 1908. Didukung juga oleh Subdit Seni Pertunjukan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Panitia Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018, Swiss-Belhotel Makassar serta komunitas-komunitas teater di daerah. Karya ini disutradarai dan dimainkan oleh Sha Ine Febriyanti dan dipentaskan pertama kali pada tahun 2014 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta dan dibawa berkeliling ke beberapa kota di Indonesia Pada 2015. Tahun ke-109 kepergian Cut Nyak Dhien, monolog ini dipentaskan kembali pada 16 November 2017 di Bentara Budaya, Jakarta dan Kuala Lumpur pada 7 Februari 2018.
Langganan:
Postingan (Atom)






